Halaman

Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Tuesday, April 17, 2018

Umat Akhir Zaman

Sebagian orang ada yang berkeinginan jika boleh memilih ia ingin hidup pada masa Rasulullah atau paling tidak masa Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Mereka beranggapan bahwa hidup pada jaman sekarang suatu kerugian. Umat akhir jaman diyakini adalah sejelek jeleknya umat, yang jauh dari Islam jaman Rasulullah. Stigma “rugi” menjadi umat akhir jaman sebagai umat yang karena jarak waktu sangat jauh dari jaman Rasulullah dibangun secara sadar ataupun tidak sadar.
Setiap keburukan yang terjadi disekitar, pelacuran, pemerkosaan, pembunuhan dan semua hal yang dikategorikan keburukan selalu dinisbahkan pada akhir jaman. Waktu menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan pada kondisi sosial maupun keagamaan. Tanpa ragu kita selalu berucap “dasar umat akhir jaman” atau “mungkin karena sekarang akhir jaman” ketika merespon hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Saturday, December 9, 2017

Keberadaan tanpa Kebermaknaan

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
Perkara hidup tak akan pernah habis kita fikirkan dan diskusikan. Warung kopi tempat ngopi sebangsa saya yang secara ekonomi berada di bawah garis kemiskinan, Café tempat kongkow dan kopdar orang berduit, semua materi pembicaraannya tak jauh dari masalah hidup. Dimulai materi yang ringan seperti urusan gaya hidup, kategori menengah yaitu urusan mencari materi (duniawi) sampai yang tingkat dewa seperti keinginan untuk poligami tapi diridoi oleh istri pertama menemani semangkuk bakso atau sepiring nasi timbel bisa juga ditemani secangkir kopi atau teh dengan kepulan kretek khas Indonesia.

Sunday, November 26, 2017

Terjebak

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
“Saya menyesal mengambil jalan ini, coba kalau saya ambil jalan lain pasti tidak akan macet.”
Setiap manusia yang hidup jasad serta fikirannya pasti sering mengucapkan kalimat-kalimat penyesalan seperti itu. Menyesal berarti ungkapan ketidakpuasan atas sebuah keadaan, artikulasi dari kekecewaan dari keadaan yang dihadapi.
Kecewa – bahagia adalah sikap dasar manusia sebagai respon dari suatu keadaan atau pencapaian. Maka merasa kecewa dan bahagia itu sangatlah wajar sebagai mahluk yang dianugerahi perasaan, fikiran dan indera. Tidak ada yang salah ketika kita merasa bahagia menerima uang dan kecewa ketika kekurangan uang.

Tuesday, November 21, 2017

Bagaimana Ketentuan Tuhan atas Hidup Kita ?

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
Sebagai seorang awam akan ilmu agama, membicarakan hal-hal ghaib dalam agama adalah hal yang tabu. Kita cenderung lebih berhati-hati dalam berbicara mengenai hal tersebut, atau bahkan seringkali menghindari pembicaraan kearah itu. Kita takut karena kedangkalan ilmu justru akan menjerumuskan kita kedalam hal-hal yang mendatangkan madharat.
Saya teringat sewaktu pertama kali masuk kuliah, ada salah satu senior di kostan dengan tiba-tiba bertanya ‘Menurutmu apa itu takdir?’. Dan sudah pasti saya dibuat celingak celinguk dengan pertanyaan itu. Takut akan kesalahan berbicara dengan kedangkalan ilmu menjadi dasar saya tidak menjawab.

Siapa yang Salah ?

Oleh Cecep Lukmanul Hakim

Banyak orang dengan secara tidak sadar meyakini bahwa Tuhan membeda-bedakan setiap manusia atau bahkan menganggap berlaku tidak adil pada dirinya atau orang lain. Mereka berpendapat bahwa manusia diciptakan dengan kadar kemampuan dan dengan batasan yang beragam.
Atau setidaknya mereka sering mengeluh dan melemparkan kesalahan kepada Tuhan atas ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi permasalahan. Seringkali kita mendengar, bahkan kita sendiri berkata, ‘Mungkin ini adalah batas kemampuan yang diberikan Tuhan pada saya’. Kalimat ini sering kali diucapkan oleh kita atas ketidakmampuan kita menghadapi permasalahan atau menyelesaikan masalah.
Kalimat seperti ini seolah pembenaran terhadap capaian kita dalam sebuah proses, kita tidak bisa melakukan lebih dari itu. Sedangkan terhadap orang lain yang lebih tinggi capaiannya dari kita, ‘Ya itu merupakan anugerah dari Tuhan untuknya’. Jika pola berfikir kita seperti itu, apakah kita tidak meragukan kuasa Tuhan? Apakah kita tidak meyakini Tuhan berlaku adil pada kita?

Thursday, February 4, 2016

Setiap Manusia adalah Sejarawan?

Oleh Cecep Lukmanul Hakim   
        
Carl Becker
Sebagai Civitas Akademika ataupun peminat sejarah, tentu kita mengenal Carl Becker dan Paul Veyne sebagai dua orang ahli dalam sejarah. Salah satu kutipan atau slogan yang terkenal dari Carl Becker adalah everyman his own historian. Nah, apa itu everyman his own historian ? dan apa hubungannya dengan Paul Veyne ?. Silahkan simak uraian di bawah ini.
            Pernyataan Carl Becker bahwa everyman his own historian yang artinya adalah setiap orang (adalah) sejarawan untuk dirinya sendiri berangkat dari asumsi bahwa setiap manusia adalah penggerak sejarah. Manusia pada hakiaktnya yang membuat sejarah baik itu sebagai pelaku sejarah atau pun sebagai saksi sejarah.  Setiap orang “normal” mengenal sejarah dan karena itu adalah “sejarawan”, namun sejarawan sebenarnya terbatas karena merupakan salah satu bentuk dari profesi akademik.

Friday, May 24, 2013

Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
man is condemned to be free; because once thrown into the world, he is responsible for everything he does (Sartre)
Filsafat secara harfiah berarti cinta yang mendalam akan kearifan. Secara populer filsafat sering diartikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup bagi individu. Dengan demikian setiap individu atau setiap kelompok masyarakat secara filosofis akan memiliki pandangan hidup yang mungkin berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianggapnya baik.
Eksistensialisme merupakan salah satu aliran filsafat yang ada saat ini. Filsafat ini muncul di abad modren yaitu pada abad ke 19 di Eropa. Ditinjau dari segi bahasa eksistensialisme memiliki kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari bahasa Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri, manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi. Pikiran semacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein (da artinya di sana, sein artinya berada)[1].

Tuesday, April 9, 2013

Filsafat Scholastik

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
Apabila ditinjau dari segi sejarah, perkembangan filsafat Barat dapat dikelompokan dalam empat periode. Pembagian periodisasi ini didasarkan kepada corak pemikiran para filusuf sebagai jiwa dari pemikiran yang sedang berkembang pada periode tersebut. Perbedaan corak atau jiwa masing-masing periode didasarkan atas perbedaan dasar dari pemikiran para filosof setiap jaman. Sehingga setiap periode menghasilkan output filsafat yang berbeda-beda. Pengelompokan filsafat kedalam beberapa periode ditarik dari zeitgeist (jiwa jaman) kesamaan karakteristik objek dan dasar dari pemikiran filosof. Dengan tujuan untuk mempermudah identifikasi terhadap pemikiran-pemikiran yang dihasilkan beserta hubungannya dengan berbagai aspek.