Halaman

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Monday, October 10, 2011

Uga Wangsit Siliwangi

Terjemahan bebas Uga Wangsit Siliwangi.
Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :
“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”
Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!
Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!
Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!
Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!
Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.
Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.
Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.
Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!
Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.
Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.
Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.
Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah.  Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.
Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.
Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.
Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.
Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.
Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!

Sumber
nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/uga-wangsit-siliwangi/

Tuesday, July 5, 2011

Uga Wangsit Siliwangi

Make basa Sunda
Carita Pantun Ngahiangna Pajajaran
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!
Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”
Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!
Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!
Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!
Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.
Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.
Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.
Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.
Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.
Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!
Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.
Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!
Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

Wednesday, June 15, 2011

Téks Carita Parahyangan


Basa Sunda Asli tina Téks Carita Parahyangan


I
Ndéh nihan Carita Parahiyangan.
Sang Resi Guru mangyuga Rajaputra.
Rajaputra miseuweukeun [1] Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan manéh Rahiyangta
Déwaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan manéh Rahiyangta ri Medangjati, inya Sang Layuwatang, nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung.
Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, nu miseuweukeun pancaputra; Sang Apatiyan [2] Sang Kusika, Sang Garga Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Putanjala inya Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katungmaralah [3], Sang Sandanggreba, Sang Wretikandayun.

II

Hana paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, nyayang di titrayatra [4] Bagawat Resi Makandria [5]. Dihakan anakna ku salakina. Diseuseul [6] ku éwéna [7].
Carék éwéna, "Papa urang, lamun urang teu dianak, jeueung Bagawat Resi Makandria.
Ditapa sotéh papa, ja hanteu dianak."
Carék Bagawat Resi Makandria, "Dianak ku waya, ja éwé ogé hanteu."
Ti inya carék Bagawat Resi Makandria, "Aing dék leumpang ka Sang Resi Guru, ka Kéndan."
Datang siya ka Kéndan.
Carék Sang Resi Guru, "Na naha siya Bagawat Resi Makandria, mana siya datang ka dinih?"
"Pun samapun [8], aya béja kami pun, kami ménta pirabieun pun. Kéna kami
kapupulihan ku Paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, papa baruk urang hanteu di na anak."
Carék Sang Resi Guru, "Leumpang siya ti heula ka batur siya deui, anaking Pwah Aksari Jabung, leumpang husir Bagawat Resi Makandria, na pideungeuneun satapa, anaking."
Leumpang Pwah Rababu, datang ka baturna, teu diaku rabi. Nyeueung inya wedadari
geulis, ti inya nyieun manéh Pwah Manjangandara, na Bagawat Resi Makandria nyieun
manéh Rakéyan Kebowulan, sida pasanggaman. Carék Sang Resi Guru,
"Étén [9] anaking, Pwah Sanghiyang Sri! Leumpang kita ngajadi ka lanceuk siya, ka
Pwah Aksari Jabung."
Ti inya leumpang Pwah Sanghiyang Sri ngajadi, inya Pwah Bungatak Mangaléngalé.

III

Carék Sang Mangukuhan, "Nam adiing [10] kalih, urang ngaboro [11] leumpang ka
tegal."
Sadatang ka tengah tegal, kasampak Pwah Manjangandara deung Rakéyan Kebowulan.
Digérékeun ku sang pancaputra; beunangna samaya, asing [12] nu numbak inya ti
heula, nu ngeunaan inya, piratueun [13].
Keuna ku tumbak Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara.
Lumpat ka patapaanana, datang paéh. Dituturkeun ku Sang Wretikandayun. Pwah
Bungatak [14] Mangaléngalé kasondong nginang deung Pwah Manjangandara; ku Sang
Wretikandayun dibaan pulang ka Galuh, ka Rahiyangta ri Medangjati.

IV

Lawasniya adeg ratu lima welas tahun, disilihan ku Sang Wretikandayun di Galuh,
mirabi Pwah Bungatak Mangaléngalé.
Na Sang Mangukuhan nyieun manéh panghuma; Sang Karungkalah nyieun manéh
panggérék, Sang Katungmaralah nyieun manéh panyadap; Sang Sandanggreba nyieun
manéh padagang. Ku Sang Wretikandayun diadegkeun Sang Mangukuhan,
Rahiyangtang Kulikuli; sang Karungkalah diadegkeun Rahiyangtang Surawulan; Sang
Katungmaralah diadegkeun Rahiyangtang Pelesawi [15]; Sang Sandanggreba
diadegkeun Rahiyangtang Rawunglangit.
Sang Wretikandayun adeg di Galuh. Ti inya lumaku ngarajaresi, ngangaranan manéh
Rahiyangta ri Menir [16]. Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, inya nu
nyieunna Purbatisti.
Lawasniya ratu salapan puluh tahun.
Disilihan ku Rahiyangtang Kulikuli, lawasniya ratu dalapan puluh tahun.
Disilihan ku Rahiyangtang Sarawulan, lawasniya ratu genep tahun, katujuhna panteg
kana goréng twah.
Disilihan ku Rahiyangtang Rawunglangit, lawasniya adeg ratu genep puluh tahun.

V

Disilihan ku Rahiyangtang Mandiminyak.
Seuweu Rahiyangta ri Menir [17], teluan sapilanceukan; anu cikal nya Rahiyang
Sempakwaja, adeg Batara Dangiyang Guru di Galunggung; Rahiyangtang Kedul, adeg
Batara Hiyang Buyut di Denuh; Rahiyangtang Mandiminyak adeg di Galuh.
Carék Sang Resi Guru, "Karunya aing ka Rahiyang Sempakwaja hanteu diboga [18] éwé.
Anaking Pwah Rababu! Kita leumpang husir Rahiyang Sempakwaja, kéna inya
pideungeuneun siya satapa."
Sang Resi ngagisik tipulung [19] jadi jalalang bodas, leumpang ngahusir Rahiyang
Sempakwaja, eukeur melit [20].
Carék Rahiyang Sempakwaja, "Na naha jalalang bodas éta?"
Top sumpit. Nya mana dihusir, dék nyumpit inya. Kapanggih Pwah Rababu eukeur
mandi di Sanghiyang Talaga Candana.
Carék Rahiyang Sempakwaja, "Ti mana kéh, éta nu mandi?"
Éta diléléd sampingna ku sumpit. Beunang diléléd. Aya deungeunna Pwah Aksari kalih,
tuluy lalumpatan ka tegal. Pwah Rababu dicokot ku Rahiyang Sempakwaja, dipirabi,
dikasiahan na Pwah Rababu. Nya mana diseuweu, inya Rahiyang Purbasora, Rahiyang
Demunawan, dwaan sapilanceukan.

VI

Ngareungeu tatabeuhan humung gumuruh tanpa parungon [21], tatabeuhan di Galuh.
Pulang ka Galuh teter nu ngigel.
Sadatang ka buruan ageung, carék Rahiyangtang Mandiminyak, "Sang Apatih, na saha
éta?"
"Béjana nu ngigel di buruan ageung."
"Éta bawa sinjang saparagi, iweu kéh pamalaan aing. Téhér bawa ku kita keudeukeudeu!"
Leumpang sang apatih ka buruan ageung, dibaan ka kadatwan na Pwah Rababu.
Dipirabi ku Rahiyangtang Mandiminyak, dirabi kasiahan na Pwah rababu. Diseuweu
patemuan, dingaranan Sang Salah.


VII

Carék Rahiyang Sempakwaja, "Rababu leumpang! Ku siya bwatkeun budak éta ka
Rahiyangtang Mandiminyak. Anteurkeun patemuan siya Sang Salahtwah."
Leumpang Pwah Rababu ka Galuh.
"Aing dititah ku Rahiyang Sempakwaja mwatkeun budak éta, beunang siya ngeudeungeudeu
aing téh."
Carék Rahiyangtang Mandiminyak, "Anak aing tu kita, Sang Salah."
Carék Rahiyangtang Mandiminyak, "Sang Apatih, ku siya teundeun kana jambangan.
Bawa ka tegal!"
Dibawa ku sang apatih ka tegal, sapamungkur [22] sang apatih, ti tegal metu ikang
aprama [23] tog ka langit, kabireungeuh ku Rahiyangtang Mandiminyak.
"Sang Apatih, husir deui teundeun siya, budak ta!"
Dihusir ku sang apatih ka tegal, kasondong hirup. Dibaan ka hareupeun Rahiyangtang
Mandiminyak. Dingaranan Sang Sénna.

VIII

Lawasniya ratu tujuh tahun. Na Rahiyangtang Mandiminyak disilihan ku Sang Séna.
Lawasniya ratu tujuh tahun, disilih-jungkat ku Rahiyang Purbasora. Na Sang Séna
diintarkeun ka Gunung Marapi, diseuweu Rakéyan Jambri.
Ageung [24] sakamantrian, lunga ka Rahiyangtang Kedul, ka Denuh [25], ménta
dibunikeun.
Carék Rahiyangtang Kedul, "Putu aing mumul kapangkukan ku siya, sugan siya
kanyahoan ku ti Galuh. Leumpang siya husir Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang
Pandawa ring Kuningan, deung anak saha tu [26] siya?"
Carék Rakéyan Jambri, "Aing anak Rahiyang Sang Séna. Dijungkat, diintarkeun ku
Rahiyang Purbasora."
"Lamun kitu, mawa boga kami ngasuhan. Ngan mulah mo sambut samaya aing. Moga
ulah meunang prangan; lamun siya ngalaga prang [27] ka kami. Ngan siya leumpang
maratkeun, husir Tohaan di Sunda."
Sadatang ka Tohaan di Sunda [28], tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. Ti inya
ditinggalkeun, ngahusir Rabuyut Sawal. Carék Rabuyut Sawal, "Saha siya?"
"Aing pun seuweu Sang Séna. Aing nanyakeun pustaka bawa Rabuyut Sawal. Eusina ma
ratuning bala sariwu; pakeun séda, pakeun sakti, paméré Sang Resi Guru."
Dibikeun ku Rabuyut Sawal.
Ti inya pulang ka Galuh Rakéyan Jambri. Tuluy diprang deung Rahiyang Purbasora.
Paéh Rahiyang Purbasora.
Lawasniya ratu tujuh tahun. Disilihan ku Rakéyan Jambri, inya Rahiyang Sanjaya.

IX

Carék Rahiyang Sanjaya, "Sang Apatih, leumpang siya, nanya ka Batara Dangiyang Guru
ku piparintaheun urang inih!"
Sadatang sang apatih ka Galunggung, carék Batara Dangiyang Guru, "Na naha béja siya,
Sang Apatih?"
"Pun, kami dititah ku Rahiyang Sanjaya ménta piparintaheun [29], adi Rahiyang
Purbasora."
Hanteu dibikeun ku Batara Dangiyang Guru. Carék Batara Dangiyang Guru, "Rahiyang
Sanjaya, leumpang nyandogé manéh. Éléhkeun Guruhaji Pagerwesi, éléhkeun Guruhaji
Mananggul, éléhkeun Guruhaji Tepus, éléhkeun Guruhaji Balitar. Lunga Rahiyang
Sanjaya; éléhkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan.
Nyandogé na kasaktian, kénana ta Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring
Kuningan, hanteu kawisésa Dangiyang Guru. Mana ingéléhkeun, inya sakti."
Rahiyang Sanjaya ka Kuningan, tuluy diprang. Éléh Rahiyang Sanjaya. Digérékan, teka
ring loh Kuningan [30], undur Rahiyang Sanjaya.
"Dara [31] aing para dinih, digérékan. Éléh [32] pun kami."
Ti inya pulang deui ka Galuh, Rahiyang Sanjaya.
Sang Wulan, Sang Tumanggal pulang deui ka Arilé. Rahiyang Sanjaya tuluy marék ka
Batara Dangiyang Guru. Carék Batara Dangiyang Guru, "Rahiyang Sanjaya, naha béja
siya datang ka dinih?"
"Aya pun béja kami, pun kami dipiwarang, éléh pun kami, supén pun kami [33]. Kami
meunang ku jadi, pun gumanti diboroan ku Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang
Pandawa ring Kuningan."
Pulang deui Rahiyang Sanjaya ka Galuh.

X

Carék Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang pandawa ring Kuningan, "Mawa pisajieun
leumpang ka Galunggung, widihan sajugala ma, palangka wulung, munding
satempahan [34], bras sapadangan."
Sateka siya ka Galunggung, mandeg ring Pakembangan. Kasondong ku Pakembangan,
majar ka Batara Dangiyang Guru. Carék Dangiyang Guru, "Naha béja siya?"
"Pun Batara Dangiyang Guru! Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di
Kuningan."
"Bagéa amat, siya datang ka dinih. Leumpang siya ka Galuh. Ala Rahiyang Sanjaya,
mangka mawa pisajieun; widihan sajugala ma, saha palangka wulung, munding
satémpahan [35], kawali wesi, bras sapadangan."
Sadatang siya ka Galuh, carék Rahiyang Sanjaya, "Naha béja siya, Pakembangan?"
"Kami pun disuruh ku Dangiyang Guru. Rahiyang Sanjaya mangka nu sangkep mawa
pisajieun. Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan."
Lunga Rahiyang Sanjaya. Téka ri hareupeun Dangiyang Guru, carék Batara Dangiyang
Guru, "Rahiyang Sanjaya! Lamun kawisésa ku siya Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang
Pandawa ring Kuningan, aing nurut carék siya. Ja beunang ku aing kawisésa, turut
carékéng! Ja aing wenang nuduh tan [36] katuduh. Ja aing anak déwata."
Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan kawisésa ku Batara
Dangiyang Guru.
Sang Wulan dijieun Guruhaji Kajaron.
Sang Tumanggal dijieun Guruhaji Kalanggara di Balamoha.
Sang Puki jadi Guruhaji Pagerwesi.
Sang Manisri dijieun Buyuthadén Rahaséa [37], di Puntang.
Buyuthadén Tunjungputih di Kahuripan.
Buyuthadén Sumajajah di Pagajahan.
Buyuthadén Pasugihan di Batur.
Buyuthadén Padurungan di Lembuhuyu.
Buyuthadén Darongdong di Balaraja.
Buyuthadén Pagergunung di Muntur.
Buyuthadén Muladarma di Parahiyangan.
Buyuthadén Batutihang di Kuningan.

XI

Rahiyang Sanjaya kawekasan ring Medang. Ratu
ring Galuh, Sang Seuweukarma. Ikang ari ratu Galuh, mananem sarwijagih Dadalem
gawey puja, lilir désa, séwabakti ring Batara Upati.
Rahiyangtang Wéréh, maka siya dingaran Rahiyangtang Wéréh, masa siya tinggal anak
sapilanceukan.
Rahiyangtang Kedul wurung ngadeg haji, kena rohang, ja mangka ngaran Rahiyang
Sempakwaja.
Rahiyangtang Kedul wurung ngadeg ratu kena kemir, ngaran mangadeg Wikuraja.
Siya jadi Tohaan di Kuningan, anakna ditapa, tu siya seuweu Rahiyang Sempakwaja.
Ujar Rahiyang Sanjaya, "Sama sanak ring aing aki! Lamun kitu ma karah. Ulah anggeus
narahan aing aki, sang apatih!"
Ujar sang apatih, "Mangka dapet deui urang nyayangan Sanghiyang Darmasiksa, mulah
mo déngé!"
Carékna patih kalih ka Rahiyang Sanjaya, "Lamun dék jaya prangrang, mangkat ti
Galuh!"
Prangrang ka Mananggul, éléh sang ratu Mananggul, Pwanala panulak sanjata. Tuluy ka
Kahuripan, diprangrang, éléh Kahuripan, na Rahiyangtang Wulukapeu nungkul. Tuluy
ka Kadul, diprangrang, éléh Rahiyang Supena, nungkul. Tuluy ka Balitar [38], diprang,
éléh sang ratu Bima.
Ti inya Rahiyang Sanjaya nyabrang ka désa Malayu. Diprang di Kemir, éléh
Rahiyangtang Gana. Diprang deui ka Keling, éléh Sang Sriwijaya. Diprangrang ka Barus,
éléh Ratu Jayadana. Diprang ka Cina, éléh Patih Sarikaladarma.
Pulang Rahiyang Sanjaya ka Galuh ti sabrang.
Ndéh humeneng.

XII

Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma di Arile, diheueumdeungna para patih; gusti
winekasan pangajaran kaparamartan.
"Nam urang marek, mawa tanggung ka Rahiyang Sanjaya. Mupu omas sakati, gangsal
(buhniya), bawaeun urang ka Rahiyang Sanjaya."
Ti inya diheueum deui di Galuh deu(ng) para patih kali(h).
"Nam, urang nyieun labur di jalan gedé pakeun nyungsung Sang Seuweukarma, ja turut
Rahiyangtang Kuku."
Sateka ka sisi(m)pang(an) ka Galuh deung ka Galunggung, disungsung, disocaan.
Ujar Rahiyangtang Kuku, "Sang apatih, bawa kami marék ka Rahiyang Sanjaya. Ornas
sakati, gangsal boéhniya."
Ujar sang apatih, "Pun Tohaan! Hanteu dipilarang na omas na beusi ku Rahiyang
Sanjaya, hengan huripna urang réa dipilarang."
Andéh kahimengan Rabiyangtang Kuku, pulang deui ka Arile.
Diheueum deungna para patih kalih.
Ujar Rahiyangtang Kuku, "Na naha pakeun urang bakti ka Rahiyang Sanjaya?"

XIII

Sakitu ménakna, ini tangtu Rahiyang Sempakwaja.
Ndéh nihan ta ujar Rahiyangtang Kuku, lunga ka Arile, ngababakan na Kuningan.
Kareungeu ku Rahiyangtang Kuku, inya Sang Seuweukarma ngadeg di Kuningan,
seuweu Rahiyang Sempakwaja; ramarénana pamarta ngawong rat kabéh.
Dayeuh paradayeuh, désa paradésa, nusa paranusa. Ti KeIing bakti ka Rahiyangtang
Kuku: Rahiyangtang Luda di Puntang. Rahiyangtang Wulukapeu di Kahuripan.
Rahiyangtang Supremana di Wiru. Rahiyang Isora di Jawa. Sang ratu Bima di Bali. Di
kulon di Tungtung Sunda nyabrang ka désa Malayu: Rahiyangtang Gana ratu di Kemir.
Sang Sriwijaya di Malayu. Sang Wisnujaya di Barus. Sang Brahmasidi di Keling.
Patihnira Sang Kandarma di Berawan. Sang Mawuluasu di Cimara-upatah. Sang
Pancadana ratu Cina. Pahi kawisésa, kena inya ku Rahiyangtang Kuku. Pahi
ngadegkeun haji sang ma¬nitih Saunggalah. Pahi ku Sang Seuweukarma kawisésa, kena
mikukuh tapak Dangiyang Kuning.
Sangucap ta Rahiyang Sanjaya di Galuh, "Kumaha sang apatih, piparéntaheun urang?
Hanteu di urang dipikulakadang ku Rahiyangtang Kuku. Sang apatih, leumpang,
dugaan ku kita ka Kuningan. Sugan urang dipajar koyo ilu dina kariya, ja urang hanteu
dibéré nyahoan, daék lunga."
Sang patih teka maring Kuningan, marék ka kadaton, umun [39] bakti ka Rahiyangtang
Kuku.
Ujar Rahiyangtang Kuku, "Deuh sang apatih, na naha na béja kita, mana kita datang ka
dinih?"
Ujar sang apatih, "Kami pun dititahan Rahiyangtang Sanjaya. Disuruh ngadugaan ka
dinih. Saha [40] nu diwastu dijieun ratu?"
Carék Rahiyangtang Kuku, "U sang apatih, yogya aing diwastu dijieun ratu ku na urang
réa. Ngan ti Rahiyang Sanjaya ma hanteu nitah ku dék kulakadang deung hamo ka
kami, ja bogoh maéhan kulakadang baraya. Ja aing ogé disalahkeun ka Kuningan ku
Rahiyang Sempakwaja. Aing beunang Rahiyang Sempakwaja nyalahkeun ka Kuningan
ini. Mana aing mo dijaheutan ku Rahiyang Sanjaya."
Pulang deui sang apatih ka Galuh. Ditanya ku Rahiyang Sanjaya, "Aki, kumaha carék
Rahiyangtang Kuku ka urang?"
"Pun Rahiyang Sanjaya! Rahiyangtang Kuku teu meunang tapana. Mikukuh Sanghiyang
Darma kalawan Sanghiyang Siksa. Nurut talatah Sang Rumuhun, ngawayangkeun awak
carita. Boh kéh ku urang turut tanpa tingtimanana. Biyaktakeun ku urang, ja urang
sarwa kaputraan, urang deung [41] Tohaan pahi anak déwata.
Ndéh inalap pustaka ku Rahiyang Sanjaya. Sadatang inungkab ikang pustaka. Sabdana
tangkarah,
"Ong awignam astu krétayugi balem raja kretayem rawanem sang tata dosamem, sewa
ca kali cab pratesora sang aparanya ratuning déwata sang adata adininig ratu déwata
sang sapta ratu na caturyuga."
"Dah umangen-angen ta Sang Resi Guru sidem magawéy Sang Kandiawan lawan Sang
Kandiawati. Mangkana manak Rahiyangtang Kulikuli, Rahiyangtang Surawulan,
Rahiyangtang Pelesawi. Rahiyangtang Rawunglangit, kamiadi Sang Wretikandayun.
Sang Wretikandayun mangka manak Rahiyangtang Sempakwaja, Rahiyangtang
Mandiminyak. Rahitangtang Mandiminyak mangka manak Sang Séna, Rahiyang Sang
Séna mangka manak Rahiyang Sanjaya."
Bo geulisan Dobana bawa bahetra piting deupa, bukana bwatan sarwo sanjata.
"Urang ka nusa Demba!"
Data sira lunga balayar.
Kareungeu ku Sang Siwiragati. Dek mwatkeun Pwah Sang kari Pucanghaji Tunjunghaji
ditumpakkeun dina liman putih. Dék ngajangjang turut buruan; momogana teka
Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma ka nusa Demba, tuluy ka kadatwan, calik
tukangeun Sang Siwiragati.
Rahiyangtang Kuku dihusir ku liman putih, lumpat ka buruan mawa Pwah Sangkari.
Hanteu aya pulang deui ka kadatwan liman putih ta, bakti ka Rahiyangtang Kuku.
Pulang deui Rahiyangtang Kuku ka Arile, dibawa na liman putih deung Pwah Sangkari.
Manguni:
"Naha hanteu omas saguri, sapetong, sapaha sapata-payan?" Tuluy ka Galuh ka
Rahiyang Sanjaya, hanteu sindang ka Arile. Dibawa na liman putih, dirungkup ku
lungsir putih tujuh kayu diwatang ku premata mas mirah komara hinten.
Datang siya ti désa Demba, tuluy ka kadatwan. Sateka Rahiyangtang Kuku ring kadaton,
mojar ka Rahiyang Sanjaya. naha suka mireungeuh liman putih.
Tanyana: "Mana?"
"Tuluy dipitutunggangan, diaseukeun Pwah Sangkari ka Rahiyang Sanjaya. Sateka ring
dalem hanteu pulang deui.
Dah Rahiyang Sanjaya: "Naha tu karémpan? Aing ayeuna kreta, aing deung bapangku,
Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma. Hanteu ngalancan aing ayeuna. Ajeuna nu
tangkarah:
"Alas Dangiyang Guru di tengah, alas Rahiyang Isora di wétan paralor Paraga deung
Cilotiran, ti kulon Tarum, ka kulon alas Tohaan di Sunda."
Dah sedeng pulang Rahiyangtang Kuku ka Arile, sadatang ka Arile panteg hanca di
bwana, ya ta sapalayaga dirgadisi lodah.
Mojar Rahiyang Sanjaya, ngawarah anaknira Rakéan Panaraban, inya Rahiyang
Tamperan: "Haywa dék nurutan agama aing, kena aing mretakutna urang réya."
Lawasniya ratu salapan tahun,disiliban ku Rahiyang Tamperan.

XV

Tembey Sang Resi Guru ngayuga taraju Jawadipa, taraju ma inya Gulunggung, Jawa ma
ti wétan.
Di pamana Sunda hana pandita sakti, ngaraniya Bagawat Sajalajala, pinejahan tanpa
dosa. Mangjanma inya Sang Manarah, anak Rahiyang Tamperan, dwa sapilanceukan
denung Rahiyang Banga.
Sang Manarah males hutang; Rahiyang Tamperan sinikep deneng anaknira. Ku Sang
Manarah dipanjara wesi na Rahiyang Tamperan.
Datang Rahiyang Banga, ceurik, teher mawakeun sekul kana panjara wesi, kanyahoan
ku Sang Manarah. Tuluy diprangrang deung Rahiyang Banga. Keuna mukana Rahiyang
Banga ku Sang Manarah.
Ti inya Sang Manarah adeg ratu di Jawa pawwatan.
Carék Jawana, Rahiyang Tamperan lawasniya adeg ratu tujuh tahun, kena twah siya
bogoh ngarusak nu ditapa, mana siya hanteu heubeul adeg ratu.
Sang Manarah, lawasniya adeg ratu dalapanpuluh tahun, kena rampés na agama.
Sang Manisri lawas adeg ratu geneppuluh tahun, kena isis di Sanghiyang Siksa.
Sang Tariwulan lawasniya ratu tujuh tahun.
Sang Welengan lawasniya ratu tujuh tahun.

XVI

Ndéh nihan tembey Sang Resi Guru
miseuweukeun Sang Haliwungan, inya Sang Susuktunggal nu munar na Pakwan
reujeung Sanghiyang Haluwesi, nu nyaeuran Sanghiyang Rancamaya.
Mijilna ti [42] Sanghiyang Rancamaya:
"Ngaran kula ta Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiyang
banaspati."
Sang Susuktunggal inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga
Maharajadiraja, ratu haji di Pakwan Pajajaran. Nu mikadatwan Sri-bima-untarayanamadura-
suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratudéwata.
Kawekasan Sang Susuktunggal, pawwatanna lemah suksi, lemah hadi, mangka premana
raja utama.
Lawasniya ratu saratus tahun.

XVII

Rahiyang Banga lawasnia ratu tujuh tahun, kena twah siya, mo makéyan agama bener.
Rakéyanta ri Medang lawasniya adeg ratu tujuh tahun.
Rakéyanta Diwus lawasniya ratu opatlikur tahun.
Rakéyanta Wuwus lawasniya ratu tujuhpuluhdua tahun.
Sang lumahing Hujung Cariang, lawasniya ratu telu tahun, kaopatna panteg kena salah
twah, daék ngala éwé sama éwé.
Rakéyan Gendang lawaniya ratu telulikur tahun.
Déwa Sanghiyang lawasniya ratu tujuh tahun.
Prebu Sanghiyang lawasniya ratu sawelas tahun.
Prebu Ditiya Maharaja lawasniya ratu tujuh tahun.
Sang lumahing Winduraja lawasniya ratu telulikur tahun.
Sang lumahing Kreta lawasniya ratu salapanpuluhdua tahun, kena mikukuh na twah
rampés, turun na kretayuga.
Disiliban deui ku Sang lumahing Winduruja, teu heubeul adeg, lawasniya ratu
dalapanwelas tahun.
Disilihan deui ku Sang Rakéyan Darmasiksa, pangupatiyan Sanghiyang Wisnu, inya nu
nyieun sanghiyang binayapanti, nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang
resi, ti sang disri, ti sang tarahan, tina parahiyangan.
Ti naha bagina?
Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda, mikukuh Sanghiyang Darma ngawakan
Sanghiyang Siksa.
Lawasniya ratu saratuslimapuluh tahun.
Manak Sang lumahing Taman lawasniya ratu genep tahun.
Manak deui Sang lumahing Tanjung, lawasnija ratu dalapan tahun.
Manak Sang lumahing Kikis, lawasniya ratu dwalikur tahun.
Sang lumahing Kiding, lawasniya ratu sapuluh tahun.
Manak Aki Kolot, lawasniya ratu sapuluh tahun.

XVIII

Manak deui Prebu Maharaja, lawasniya ratu tujuh tahun, kena kabawa ku kalawisaya,
kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna.
Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda. Pan prangrang di
Majapahit.
Aya na seuweu Prebu, wangi ngaranna, inyana Prebu Niskalawastu Kancana nu surup di
Nusalarang ring giri Wanakusuma. Lawasniya ratu saratusopat tahun, kena rampés na
agama, kretajuga.
Tandang pa ompong jwa pon, kenana ratu élé h ku satmata. Nurut nu ngasuh Hiyang
Bunisora, nu surup ka Gegeromas. Batara Guru di Jampang.
Sakitu nu diturut ku nu mawa lemahcai.
Batara Guru di Jampang ma, inya nu nyieun ruku Sanghiyang Pak é, basa nu wastu
dijieun ratu. Beunang nu pakabrata séwaka ka d éwata [43]. Nu di tiru ogé paké
Sanghiyang Indra, ruku ta.
Sakitu, sugan aya nu d ék nurutan inya twah nu surup ka Nusalarang. Daé k él éh ku
satmata. Mana na kretajuga, él éh ku nu ngasuh.
Nya mana sang rama énak mangan, sang resi é nak ngaresisasana, ngawakan na
purbatisti, purbajati. Sang disri énak masini ngawakan na manusasasana, ngaduman
alas pari-alas. Ku b éét hamo diukih, ku gedé hamo diukih. Nya mana sang Tarahan
énak lalayaran ngawakan manu-rajasasana. Sanghiyang apah, teja, bayu, akasa, sangbu
énak-énak,ngalungguh di sanghiyang Jagatpalaka. Ngawakan sanghiyang rajasasana,
angadeg wiku énak di Sanghiyang Linggawesi, brata siya puja tanpa lum. Sang wiku
énak ngadéwasasana ngawakan Sanghiyang Watang Ageung, énak ngadeg manu-rajasuniya.
Tohaan di Galuh, inya nu surup di Gunungtiga. Lawasniya ratu tujuh tahun, kena salah
twah bogoh ka é stri larangan ti kaluaran.

XIX

Disilihan ku Prebu, naléndraputra premana, inya Ratu Jayadéwata, sang mwakta ring
Rancamaya, lawasniya ratu telupuluhsalapan tahun.
Purbatisti, purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal, musuh alit. Suka kreta tang
lor, kidul, kulon, wétan, kena kreta rasa.
Tan kreta ja lakibi dina urang réya, ja loba di Sanghiyang Siksa.

XX

Disilihan inya ku Prebu Surawisésa, inya nu surup ka Padaré n, kasuran, kadiran,
kuwamén.
Prangrang limawelas kali hanteu éléh, ngalakukeun bala sariwu.
Prangrang ka Kalapa deung Aria Burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol
kiyi. Prangrang ka Wahanten girang. Prangrang ka Simpang. Prangrang ka Gunungbatu.
Prangrang ka Saungagung. Prangrang ka Rumbut. Prangrang ka Gunung. Prangrang ka
Gunung Banjar. Prangrang ka Padang. Prangrang ka Panggoakan. Prangrang ka
Muntur. Prang rang ka Hanum. Prangrang ka Pagerwesi. Prangrang ka
Medangkahiyangan.
Ti inya nu pulang ka Pakwan deui. hanteu nu nahunan deui, panteg hanca di bwana.
Lawasniya ratu opatwelas tahun.

XXI

Prebu Ratudé wata, inya nu surup ka Sawah-tampian-dalem. Lumaku ngarajaresi. Tapa
Pwah Susu.
Sumbé lé han niat tinja bresih suci wasah. Disunat ka tukangna, jati Sunda teka.
Datang na bancana musuh ganal, tambuh sangkané. Prangrang di burwan ageung.
Pejah Tohaan Saréndét deung Tohaan Ratu Sanghiyang.
Hana pandita sakti diruksak, pandita di Sumedeng. Sang panadita di Ciranjang
pinejahan tanpa dosa, katiban ku tapak kikir. Sang pandita di Jayagiri Iinabuhaken ring
sagara.
Hana sang pandita sakti hanteu dosana. Munding Rahiyang ngaraniya linabuhaken ring
sagara tan keneng pati, hurip muwah, moksa tanpa tinggal raga teka ring duniya.
Sinaguhniya ngaraniya Hiyang Kalingan. Nya iyatnajatna sang kawuri, haywa ta sira
kabalik pupuasaan.
Samangkana ta pr écinta.
Prebu Ratudé wata, lawasniya ratu dalapan tahun, kasalapan panteg hanca dina bwana.

XXII

Disilihan ku Sang Ratu Saksi Sang Mangabatan ring Tasik, inya nu surup ka
Péngpéléngan. Lawasniya ratu dalapan tahun, kenana ratu twahna kabancana ku estri
larangan ti kaluaran deung kana ambutéré. Mati-mati wong tanpa dosa, ngarampas
tanpa prégé, tan bakti ring wong-atuha [44], asampé ring sang pandita.
Aja tinut d é sang kawuri, polah sang nata.
Mangkana Sang Prebu Ratu, carita inya.

XXIII

Tohaan di Majaya alah prangrang, mangka tan nitih ring kadatwan. Nu ngibuda
Sanghiyang Panji, mahayu na kadatwan, dibalay manelah taman mihapitkeun dora
larangan. Nu migawe bale-bobot pituweJas jajar, tinulis pinarada warnana cacaritaan.

XXIV

Hanteu ta yuga dopara kasiksa tikang wong sajagat, kreta ngaraniya. Hanteu nu
ngayuga sanghara, kreta, kreta.
Dopara luha gumenti tang kali. Sang Nilak éndra wwat ika sangké lamaniya
manggirang, lumekas madumdum cereng. Manganugraha weka, hatina nunda
wisayaniya, manurunaken pretapa, putu ri patiriyan. Cai tiningkalan nidra wisaya ning
baksa kilang.
Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan [45]. Lawasniya ratu kampa
kalayan pangan, ta tan agama gayan kewaliya mamangan sadirasa nu surup ka sangkan
beunghar.
Lawasniya ratu genepwelas tahun.

XXV

Disilihan ku Nusiya Mulia. Lawasniya ratu sadewidasa [46], tembey datang na prebeda.
Bwana alit sumurup ring ganal, metu sanghara ti Selam.
Prang ka Rajagaluh, élé h na Rajagaluh. Prang ka Kalapa, él éh na Kalapa. Prang ka
Pakwan, prang ka Galuh, prang ka Datar, prang ka Madiri, prang ka Paté gé, prang ka
Jawakapala, él éh na JawakapaJa. Prang ka Galé lang. Nyabrang, prang ka Salajo, pahi éléh ku Selam.
Kitu, kawisésa ku Demak deung ti Cirebon [47], pun.

 Dicutat tina:
Atja (1968) Carita Parahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda. Bandung:
Jajasan Kebudajaan Nusalarang