Halaman

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Monday, July 1, 2024

Best Practice : Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Berbantuan Media Google Earth untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Pada Siswa Kelas X 1 Madrasah Aliyah Negeri 2 Ciamis

Proses pembelajaran di kelas menjadi kunci keberhasilan terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Pembelajaran di kelas memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan siswa secara akademis maupun non akademis. Interkasi dan komunikasi yang aktif antara guru dan siswa dapat memudahkan transfer ilmu sehingga pemahaman siswa terhadap materi dapat dicapai. Selain itu melalui proses interaksi dan komunikasi tersebut dapat membentuk kemampuan berfikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan dan kemampuan bekerjasama.

Proses belajar di kelas tidak hanya berorientasi terhadap akademis saja, namun lebih jauh harus bisa mempersiapkan siswa dalam menghadapi masa depannya. Kemampuan dan keterampilan dasar yang diperlukan siswa dalam bermasyarakat dan mengahadapi dunia kerja harus dipersiapkan. Melalui proses pembelajaran yang aktif, siswa dimotivasi untuk belajar berkomunikasi dengan baik dan benar dan mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan percaya diri. Selain itu siswa dituntut untuk berprilaku jujur, disiplin dan menghargai perbedaan dan keberagaman.  

Pelajaran sejarah sebagai salah satu mata pelajaran pada kurikulum Merdeka tingkat SMA/MA/Paket C dituntut untuk dapat mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa yang terjadi dimasa lalu dengan peristiwa yang dialami sekarang, untuk kita dapat saling merenungi, mengevaluasi, membandingkan atau mengambil keputusan, sekaligus sebagai orientasi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Muara dari pembelajaran sejarah yang berorientasi pada keterampilan berpikir secara alamiah akan mendorong pembentukan manusia merdeka yang memiliki kesadaran sejarah dan selaras dengan profil pelajar Pancasila (Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia, 2022 : 6).

Dengan pentingnya pelajaran sejarah di atas, guru sebagai fasilitator pembelajaran di kelas harus memiliki kompetensi dan kreatifitas dalam memandu proses pembelajaran. Materi sejarah tidak boleh diajarkan secara sempit dan faktual terpaku pada kronologi, tempat, waktu dan tokoh sejarah. Namun, sejarah harus diajarkan dengan memadukan kerangka berfikir diakronis dan sinkronis. Menurut Sartono Kartodirdjo dalam Aman (2015 : 83) sejarah dapat menggunakan dua pendekatan diakronis dan sinkronis, terutama apabila objek studi sejarah ditunjukkan pada suatu masyarakat atau lembaga sosial, maka untuk melacak perkembangan historis strukturnya mau tidak mau diperlukan kedua pendekatan tersebut.  

Kerangka berfikir diakronis berarti mempelajari sejarah secara berurutan waktu dengan memperhatikan hubungan kausalitas peristiwa serta transformasinya (perubahannya). Sedangkan berfikir sinkronis berarti mempelajari suatu persitiwa sejarah dengan sangat mendalam melibatkan aspek latar belakang, sosial masyarakat dan budaya namun terbatas dalam waktu. Kemampuan berfikir diakronis dan sinkronis diperlukan dalam mencapai rasionalitas mata pelajaran sejarah di atas.

Mengkontekstualisasikan berarti menghadirkan peristiwa masa lalu ke masa sekarang dengan cara mempelajari fenomena-fenomena sejarah sebagai perbandingan supaya siswa dapat merenungi, mengevaluasi dan mengambil keputusan untuk masa depan. Oleh karena itu, guru juga dituntut untuk lebih peka terhadap peristiwa-peristiwa masa kini untuk diambil fenomenanya dan dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dengan melibatkan pengetahuan siswa terhadap peristiwa yang dialami sekarang dan dikaitkan dengan peristiwa sejarah yang dipelajari, maka pembelajaran sejarah akan lebih bermakna. Siswa merasa materi yang dipelajari sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan semangat dan motivasi siswa dalam mempelajari sejarah. Selain itu kemampuan siswa dalam berfikir kritis dan memecahkan masalah dapat tumbuh karena materi sejarah “dihadirkan” lebih dekat dalam kehidupan mereka.

Untuk menghadirkan materi sejarah supaya lebih dekat dengan siswa, diperlukan juga media pembelajaran yang menunjang. Materi sejarah yang berupa uraian peristiwa masa lalu sangat membosankan apabila tidak didukung dengan visualisasi materi. Penggambaran terhadap peristiwa sejarah apabila hanya berupa uraian kata dalam tulisan panjang hanya akan membuat siswa bosan dan mengantuk. Maka dari itu diperluka penggambaran atau visualisasi yang mendukung terhadap materi. Visualisasi tersebut bisa berupa gambar, foto, rekaman suara dan video peristiwa sejarah.

Pada umumnya, pembelajaran sejarah di kelas masih dilakukan dengan metode konvensional. Komunikasi hanya dilakukan satu arah saja dengan guru sebagai pusat belajar atau teacher centred. Siswa hanya dijadikan objek dalam proses pembelajaran, menerima materi dari guru tanpa memahami secara mendalam materi tersebut. Guru tidak menciptakan suasana belajar yang kondusif yang merangsang perkembangan akademis dan non akademis siswa. Suasana belajar yang tidak kondusif akan berdampak terhadap motivasi siswa dalam belajar sejarah, sehingga menganggap belajar sejarah membosankan karena harus menghafal tempat, waktu dan tokoh perstiwa sejarah. Bahkan diantara siswa akan menganggap pelajaran sejarah itu tidak penting karena tidak ada korelasinya dengan kehidupan masa sekarang.

Pengetahuan guru yang terbatas terhadap isu-isu dan peristiwa yang terjadi sekarang, terhadap kebiasaan dan budaya masyarakat setempat menyulitkan guru untuk menghubungkan fenomena peristiwa masa lalu dengan peristiwa sekarang. Sehingga belajar sejarah akan terpaku pada fakta-fakta saja tanpa menggunakan analisis sebagai kerangka berfikir tentang peristiwa masa lalu. Pentingnya mengaitkan fenomena peristiwa masa lalu dengan masa sekarang untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar sejarah. Sehingga sejarah tidak dipandang “jauh dimasa lalu” namun tetap dekat karena memiliki hubungan dengan masa sekarang. 

Selain itu, suasana belajar yang tidak kondusif juga akan berdampak negatif terhadap perkembangan kemampuan non akademis siswa. Keterampilan berfikir kritis, berfikir kronologis, kemampuan mengemukakan pendapat dengan percaya diri dan kemampuan menghargai perbedaan tidak akan terbentuk. Padahal hal tersebut seharusnya tidak terlepas dari proses belajar sejarah karena merupakan rasional dan karakteristik mata pelajaran sejarah. Disamping itu kemampuan non akademis tersebut sangat dibutuhkan siswa untuk menghadapi tantangan kehidupan pada masa mendatang di era keterbukaan informasi dan komunikasi.

Guru harus “melek” teknologi dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk menunjang lingkungan belajar yang kondusif. Namun, kenyataannya masih terdapat guru yang tidak mau dan tidak mampu untuk memanfaatkan terknologi untuk proses belajar di kelas. Tidak memiliki kemampuan untuk mengoprasikan perangkat laptop, proyektor dan internet, tidak mau repot membuat media pembelajaran dan sudah terbiasa mengajar dengan metode ceramah menjadi alasan enggannya memanfaatkan teknlogi dalam proses pembelajaran. Padahal salah satu tujuan penting memanfaatkan teknlogi untuk proses pembelajaran yaitu untuk menghadirkan peristiwa sejarah dalam bentuk foto atau gambar, rekaman suara dan video sehingga motivasi dan rasa ingin tahu siswa dalam belajar sejarah akan meningkat.

Untuk menciptakan suasana belajar di kelas yang kondusif, diperlukan suatu kerangka pembelajaran yang tersusun secara sistematis, efektif dan efisien dengan beroreintasi terhadap siswa dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yang dikenal dengan model pembelajaran. Pengertian model pembelajaran berdasarkan Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 dalam Abas Asyafah (2019 : 21) Model pembelajaran adalah kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya.

Terdapat banyak pilihan model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran memiliki krakterisitik dan kelebihannya masing-masing sesuai dengan nama dan sintaksnya. Model pembelajaran ini yang akan menjadi acuan guru sebagai fasilitator dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, guru dituntut untuk mempertimbangkan aspek-aspek yang akan dicapai dari proses pembelajaran sebelum memilih model pembelajaran yang akan digunakan.

Salah satu model pembelajaran yang sangat cocok digunakan untuk belajar sejarah adalah model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL). Hal ini sesuai dengan rasionalisasi mata pelalajaran sejarah pada Kurikulum Merdeka yang menekankan aspek kontekstualisasi peristiwa masa lalu dengan peristiwa sekarang, sehingga siswa dapat merenungi, mengevaluasi, membandingkan atau mengambil keputusan untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Menurut Nurhadi dalam Hasnawati (2006: 56) contextual teaching and learning merupakan konsep belajar mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan di kelas dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupannya sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat.

Untuk menerapkan model Contextual Teaching Learning guru harus memiliki kepekaan terhadap situasi masa sekarang dan memiliki pengetahuan yang luas terhadap permasalah-permasalahan yang ada. Pengetahuan terhadap kebiasaan dan budaya masyarakat dimana siswa tinggal juga sangat diperlukan untuk menghadirkan fenomena peristiwa masa lalu kedalam kehidupan sehari-hari siswa. Karena dalam model pembelajaran ini interaksi harus dimulai dengan memanfaatkan pengetahuan siswa atau hal-hal yang terjadi disekitar siswa dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar. Selain itu, dengan menghubungkan fenomena masa lalu dengan peristiwa masa kini diharapkan kemampuan berfikir kritis, analitis dan kontrukstif siswa akan terbangun.  

Karakteristik atau komponen utama dalam model pembelajaran Contextual Teaching Learning menurut Nurhadi dalam Hasnawati (2006 : 58) diantaranya :

1.    Konstruktivistik (constructivism), mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2.     Menemukan (inquiry), laksanakan sejauh mungkin kegiatan inqury untuk semua topik.

3.     Bertanya (questioning), kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

4.   Masyarakat belajar (learning community), ciptakan masyarakat belajar dengan membentuk kelompok-kelompok belajar.

5.       Pemodelan (modeling), hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6.       Refleksi (reflection), lakukan refleksi di akhir pertemuan.

7.       Penilaian yang riil (authentic assessment), lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Pelaksanaan model pembelajaran Contextual Teaching Learning menekankan siswa untuk belajar mandiri secara berkelompok dengan mengkontruksi pengetahuan dan keterampilanya sendiri. Pengetahuan didapat dari interaksi antar siswa dalam masyarakat belajar yang dibentuk secara heterogen supaya terjadi keseimbangan dan pemerataan dalam proses belajar. Guru hanya sebatas sebagai fasilitator yang menjelaskan langkah-langkah pembelajaran diawal pertemuan, menghadirkan suatu model atau contoh dalam menghubungkan peristiwa masa lalu dengan peristiwa masa sekarang dan bersama-sama siswa melakukan refleksi pada akhir pembelajaran.

Selain itu, penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi dan informasi dalam pembelajaran sangat penting. Arief S. Sadiman dalam Hamzah Pagarra dkk (2022 : 5) menjelaskan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepenerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Media pembelajaran digunakan untuk menyampaikan materi yang bersifat abstrak menjadi konkret. Sehingga siswa mendapatkan visualisasi yang nyata dari uraian materi yang dipelajari.

Begitu pentingnya media pembelajaran dalam belajar sejarah karena materi sejarah secara umum merupakan uraian tentang peristiwa masa lalu, hasil kebudayaan masa lalu dan kehidupan manusia masa lalu. Apabila tidak ditunjang dengan media pembelajaran, guru akan mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan konsep-konsep dan peristiwa dalam materi. Sehingga proses pembelajaran kurang maksimal dan berdampak pada motivasi siswa yang kurang dan tujuan pembelajaran yang tidak tercapai.

Sebagai contoh dalam pembelajaran sejarah pada Fase E (kelas X) pada elemen capaian Asal Usul Nenek Moyang dan Jalur Rempah di Indonesia, guru bisa membuat media pembelajaran berbaisis teknologi informasi dengan memanfaatkan aplikasi google earth. Pada aplikasi tersebut, guru membuat peta jalur masuknya nenek moyang bangsa Indonesia lengkap beserta wilayah, jalur kedatangan, tempat kedatangan, nama suku serta kebudayannya. Selain itu guru juga dapat membuat jalur perdagangan rempah-rempah serta menunjukan tempat penghasil rempah-rempah di Indonesia.

Dikaitkan dengan model pembelajaran Contxtual Teaching Learning (CTL), pembelajaran bisa diawali dengan guru bertanya kepada siswa tentang apa alasan suku bangsa, kebudayaan dan bahasa daerah yang beragam. Siswa diajak untuk menginventarisir suku bangsa, kebudayaan dan bahasa daerah yang mereka ketahui. Selain itu untuk materi jalur rempah, guru dapat menghadirkan jalur rempah dengan terlebih dahulu menayangkan dan bertanya kepada siswa mengenai jenis-jenis rempah dan kegunaannya dikaitkan dengan kondisi pada saat itu dimana teknologi belum maju seperti sekarang. Melalui diskusi siswa dapat menemukan betapa pentingnya rempah-rempah pada saat itu, sehingga mereka menjadi faham mengapa bangsa Eropa sampai datang ke Nusantara untuk membeli rempah-rempah.

Proses pembelajaran sejarah menggunakan model Contextual Teaching Learning dengan ditunjang penggunaan media berbasis teknologi berhasil menarik minat dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar sejarah. Siswa terlibat secara langsung dalam proses pencarian pengetahuan melalui diskusi kelompok dengan berbagai macam sumber belajar yang tersedia seperti buku teks, jurnal, gambar, video dan lain-lain yang tersedia secara online di internet. Keterampilan berfikir kritis, analitis, menyampaikan pendapat dan menghargai perbedaan diasah dalam diskusi kelompok serta presentasi hasil diskusi kelompok yang disajikan didepan kelas.

Menghadirkan peristiwa masa lalu untuk lebih dekat dengan kehidupan siswa menjadi titik tolak meningkatnya minat dan motivasi siswa dalam belajar sejarah. Karena ternyata belajar sejarah tidak hanya belajar tentang masa lalu, namun belajar sejarah adalah belajar mengenai fenomena kehidupan yang akan terus berulang pada masa yang akan datang. Sehingga kita bisa memperbaiki kesalahan kita dimasa lalu dan menyempurnakan kehidupan dimasa mendatang.

 

Daftar Pustaka

Buku

Aman. (2015). Penilaian Otentik: Teori dan Praktik dalam Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: UNY Press.

Anonim. (2022).  Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Sejarah Fase E – Fase F Untuk SMA/MA/Paket C. Jakarta: Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia.

Pagarra, Hamzah dkk (2022). Media Pembelajaran. Malang: Badan Penerbit UNM

Jurnal

Asyafah, Abas (2019). Menimbang Model Pembelajaran (Kajian Teoritis-Kritis atas model Pembelajaran dalam Pendidikan Islam). Tarbawy: Indonesian Journal of Islamic Education. 6 (1). 19-32.

DOI: https://doi.org/10.17509/t.v6i1.20569

Hasnawati (2006). Pendekatan Contextual Teaching Learning Hubungannya dengan Evaluasi Pembelajaran. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan. 3 (1). 53-62.

DOI 10.21831/jep.v3i1.635

Friday, December 18, 2020

RAPORT ONLINE KELAS XI IPS 2 MAN 5 CIREBON

Wednesday, June 12, 2019

Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah

Tugas Negara sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 salah satunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam usaha itu, Pemerintah menyelenggarakan pendidikan berjenjang mulai dari pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi.
Mencerdaskan bangsa itu bisa dalam dua hal, yang pertama mencerdaskan secara intelektual dan yang kedua mencerdaskan mental dari bangsa itu sendiri. Mencerdaskan intelektual sangat penting dalam era globalisasi ini untuk modal persaingan IPTEK dengan negara lain.
Output dari pendidikan intelektual mampu membangun bangsa ini menjadi lebih maju dan lebih sejahtera. Namun sebenarnya pendidikan mental  atau disebut pendidikan karakter juga tidak kalah penting. Salah satu kepentingan masyarakat/bangsa yang harus diperhatikan pendidikan adalah jati diri bangsa.

Thursday, May 2, 2019

Balada si Umar

Pagi buta Umar sudah bangun dari tidurnya, hari-hari yang lain terkadang lebih dahulu dari ayam dikandang. Semalam tidur tak nyenyak, maklum ini hari adalah awal bulan, pembagian honor masih jauh dari pelupuk mata. Dua minggu yang lalu ia terima, tapi tinggal ¼ nya saja, uang rutin ia terima hanya cukup untuk bertahan tak sampai penguhujung bulan. Istri satu anak satu tanggungannya.

Kalau tetangganya sibuk minum kopi dan baca berita, pagi-pagi Umar sibuk kesana kemari, kasih makan ayam dikandang kemudian pergi ke kolam ikan, terkadang ia harus berebut jatah nasi dengan mereka. Lebih baik makan sedikit tapi punya simpanan, buat dijual kalau kepepet.

Tuesday, November 21, 2017

Siapa yang Salah ?

Oleh Cecep Lukmanul Hakim

Banyak orang dengan secara tidak sadar meyakini bahwa Tuhan membeda-bedakan setiap manusia atau bahkan menganggap berlaku tidak adil pada dirinya atau orang lain. Mereka berpendapat bahwa manusia diciptakan dengan kadar kemampuan dan dengan batasan yang beragam.
Atau setidaknya mereka sering mengeluh dan melemparkan kesalahan kepada Tuhan atas ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi permasalahan. Seringkali kita mendengar, bahkan kita sendiri berkata, ‘Mungkin ini adalah batas kemampuan yang diberikan Tuhan pada saya’. Kalimat ini sering kali diucapkan oleh kita atas ketidakmampuan kita menghadapi permasalahan atau menyelesaikan masalah.
Kalimat seperti ini seolah pembenaran terhadap capaian kita dalam sebuah proses, kita tidak bisa melakukan lebih dari itu. Sedangkan terhadap orang lain yang lebih tinggi capaiannya dari kita, ‘Ya itu merupakan anugerah dari Tuhan untuknya’. Jika pola berfikir kita seperti itu, apakah kita tidak meragukan kuasa Tuhan? Apakah kita tidak meyakini Tuhan berlaku adil pada kita?

Thursday, February 4, 2016

Setiap Manusia adalah Sejarawan?

Oleh Cecep Lukmanul Hakim   
        
Carl Becker
Sebagai Civitas Akademika ataupun peminat sejarah, tentu kita mengenal Carl Becker dan Paul Veyne sebagai dua orang ahli dalam sejarah. Salah satu kutipan atau slogan yang terkenal dari Carl Becker adalah everyman his own historian. Nah, apa itu everyman his own historian ? dan apa hubungannya dengan Paul Veyne ?. Silahkan simak uraian di bawah ini.
            Pernyataan Carl Becker bahwa everyman his own historian yang artinya adalah setiap orang (adalah) sejarawan untuk dirinya sendiri berangkat dari asumsi bahwa setiap manusia adalah penggerak sejarah. Manusia pada hakiaktnya yang membuat sejarah baik itu sebagai pelaku sejarah atau pun sebagai saksi sejarah.  Setiap orang “normal” mengenal sejarah dan karena itu adalah “sejarawan”, namun sejarawan sebenarnya terbatas karena merupakan salah satu bentuk dari profesi akademik.

Saturday, January 19, 2013

Sejarah Sebagai Pengalaman Dan Sebagai Kegiatan Intelektual

Pernyataan Carl Becker bahwa everyman his own historian yang artinya adalah setiap orang (adalah) sejarawan untuk dirinya sendiri berangkat dari asumsi bahwa setiap manusia adalah penggerak sejarah. Manusia pada hakiaktnya yang membuat sejarah baik itu sebagai pelaku sejarah atau pun sebagai saksi sejarah.  Setiap orang “normal” mengenal sejarah dan karena itu ia adalah “sejarawan”, namun istilah sejarawan sebenarnya terbatas apabila ditinjau dari kacamata keilmuan merupakan salah satu bentuk dari profesi akademik.
Manusia sebagai penggerak sejarah baik itu sebagai pelaku atau saksi sejarah boleh menceritakan kejadian yang dialaminya dalam bentuk tulisan, Namun hasil dari tulisan tersebut belum bisa disebut sejarah, karena penulisan sejarah harus melalui tahapan-tahapan tertentu. Sedangkan penulisan cerita ini hanya berpijak dari pengalaman, apa yang dirasakan, apa yang didengar dan apa yang dilihat oleh penulis. Bentuk dari penulisan ini bisa berupa catatan harian, memoir, boigrafi dan otobiografi.

Wednesday, June 15, 2011

Lomba Menulis Karya Ilmiah dan Komik Kesejarahan

DIREKTORAT NILAI SEJARAH
DIREKTORAT  JENDERAL SEJARAH DAN PURBAKALA
KEMENTRIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Mengadakan lomba karya tulis ilmiah yang berbentuk makalah dengan sub tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Nasionalisme dalam Perspektif Sejarah”. Lomba ini terbuka untuk seluruh mahasiswa tanpa menganal jurusan. Selain itu Direktorat Nilai Sejarah juga mengadakan lomba menulis komik sejarah dengan sub tema “Tokoh Sejarah Lokal dan Nasional dalam Pembangunan Nilai-Nilai Nasionalisme dan Kebangsaan pada Generasi Muda”. 


Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di:
Link:

Tuesday, April 5, 2011

Ringkasan Materi Sejarah Kelas XI IPS Semester 2

Ringkasan Materi Sejarah
Kelas XI IPS
Semester 2
Standar Kompetensi   : Menganalisis Perkembangan Bangsa Indonesia sejak Masuknya Pengaruh Barat sampai dengan Pendudukan Jepang.
Kompetensi Dasar      : Menganalisis Hubungan Antara Perkembangan Faham-Faham Baru dan Transformasi Sosial dengan Kesadaran dan Pergerakan Kebangsaan.
Materi Pokok              : Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia.

Karakteristik Perlawanan Terhadap Belanda pada Awal Abad ke 20 (Pergerakan Nasional) :
Perlawanan bersifat nasional
Tujuan perlawanan untuk mencapai kemerdekaan nasional
Alat perjuangan berupa organisasi/partai
Perlawanan memiliki 2 cara, kooperatif dan nonkooperatif. Kooperatif berarti ikut bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda dalam usaha mencapai kemerdekaan. Nonkooperatif berarti tidak bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda dalam usaha untuk mencapai kemerdekaan
Perjuangan dipimpin oleh kaum intelektual

Asal-usul nama bagi kepulauan Indonesia:
Hindia
Berasal dari bahasa Yunani (Herodotus) untuk menyebutkan kata Indus. Dipopulerkan oleh seorang pelaut Portugis yang pernah datang ke Indonesia yaitu Vasco De Gamma
Nederlandsch Oost Indie
Nama ini berasal dari bahasa Belanda. Nama ini adalah sebutan orang Belanda terhadap jajahannya di kepulauan Indonesia yang nanti berubah namanya menjadi Nederlandsch Indie. Nama ini memiliki arti bahwa Indie (Indonesia) adalah negeri bawahan (jajahan) Belanda (Nederland)
Insulinde
Nama ini diambil dari dua kata dalam bahasa Belanda, Insula/Insulair yang berarti pulau dan Indie yang berarti Hindia. Nama ini ditemukan dalam karangan Edward Dowes Dekker (Multatuli) yaitu Max Havelaar. Dipopulerkan juga oleh Profesor Veth.
Nusantara
Nama ini ditemukan dalam perpustakaan India kuno, untuk menyebutkan kepulauan Indonesia. Nama ini diambil dari dua kata, Nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti diantara. Jadi nama ini memiliki arti kepulauan yang terletak diantara, baik diantara benua (Asia dan Australia) maupun diantara samudera (samudera Hindia dan samudera Pasifik)
Indonesia
Nama ini diciptakan oleh Prof. Adolf Bastian pada tahun 1884. Ia adalah seorang guru besar pada universitas di Berlin dalam ilmu bahasa. Ia mengarang buku yang terdiri dari lima jilid yang berjudul Indonesien Oder die Inseln des Malaischen Archipelago. Kata Indonesia ini berasal dari dua suku kata yaitu Indo dan nesie (Nesos dalam bahasa Yunani) yang berarti Kepulauan Hindia. Kata Nesos juga hampir berdekatan dengan kata nusa dalam bahasa kita yang berarti kepulauan
Hindia Timur
Nama ini dipakai oleh salah satu organisasi pada masa pergerakan nasional yaitu Muhammadiyah pimpinan K.H. Ahmad Dahlan. Nama ini sangat populer di kalangan Muhammadiyah dan menjadi nama resmi dalam organisasi ketika menyebutkan kepulauan Indonesia.

Organisasi Pergerakan Nasional

Budi Utomo
Organisasi ini lahir di Batavia pada tanggal 20 Mei 1908 (Hari Kebangkitan Nasional) atas prakarsa dari mahasiswa-mahasiswa S.T.O.V.I.A (School Tot Opleiding van Indische Arsten). Organisasi inimuncul karena dilatarbelakangi oleh inisiatif Dr. Wahidin Sudirohusodo yang bangkit untuk memberikan pengajaran kepada orang Jawa dengan menghimpun dana dari tiap daerah di Jawa (study found).
Tokoh-tokoh:
·         Dr Wahidin Sudirohusodo
·         dr Sutomo
·         Tjipto Mangunkusumo
Organisasi ini bersifat kedaerahan (etnosentris) hanya ditujukan untuk mahasiswa Jawa ataupun kalangan priyayi Jawa sehingga kurang mendapatkan tempat di hati orang Indonesia pada waktu itu. Pergerakan organisasi ini koopertif, melakukan kerjasama dengan pihak pemerintah kolonial Belanda.
Sarekat Dagang Islam
Organisasi ini dibentuk di kota Solo oleh pedagang batik yaitu Haji Samanhudi pada tahun 1911. Organisasi ini bersifat nationalistis-democratis-religieus-economis. Latar belakang muncul dan berkembangnya SDI ini adalah:
·         Perdagangan bangsa Tionghoa adalah suatu halangan buat perdagangan Indonesia karena monopoli bahan batik, ditambah pula dengan tingkah laku sombong dari bangsa Tionghoa sesudah revolusi di Tiongkok
·         Kemajuan gerak langkah penyebaran agama Kristen dan juga ucapan-ucapan yang menghina dalam parlemen Negeri belanda tentang tipisnya kepercayaan agama bangsa Indonesia
·         Cara adat lama yang terus dipakai di daerah kerajaan-kerajaan Jawa, makin lama makin dirasakan sebagai penghinaan terhadap umat Islam
Nama SDI dirubah menjadi Sarekat Islam (SI) dengan tujuan untuk memperluas daerah pergerakan supaya tidak terbatas pada golongan pedagang saja. Anggaran Dasar SI menyebutkan tujuan dari Sarekat Islam :
“Mencapai kemajuan rakyat yang nyata dengan jalan persaudaraan, persatuan dan tolong menolong diantara kaum Muslimin semuanya. “
“memajukan semangat dagang bangsa Indonesia, memajukan kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama, menghilangkan faham-faham keliru tentang agama Islam.”
Sifat pergerakan dari SI ini adalah kooperatif dan tidak bereaksi melawan pemerintah Belanda. Walaupun begitu, dengan agama Islam sebagai lambang persatuan. (Kongres Sarekat Islam I 26 Januari 1913 di Surabaya).
SI adalah organisasi kerakyatan dan hanya diperuntukan bagi rakyat biasa, pegawai pemerintah Belanda tidak diperbolehkan menjadi anggota. Anggota haruslah rakyat biasa yang beragama Islam dan orang pribumi (Kongres Sarekat Islam II di Solo).
Dalam tahun 1915 di Surabaya didirikan Central Sarekat Islam (C.S.I) dengan tujuan untuk memajukan dan membantu S.I daerah, mengadakan dan memelihara perhubungan dan pekerjaan berasama.  
Kongres Nasional S.I ke 3 di Surabaya (29 September-6 Oktober 1918) telah merubah haluan pergerakan menjadi cenderung kiri yang membela kaum buruh dan menentang kapitalisme. Dalam kongres ini diputuskan bahwa S.I menentang pemerintah sepanjang tindakannya melindungi kapitalisme; pegawai negeri Indonesia dikatakan adalah alat, penyokong kepentingan kapitalis. Selain itu S.I juga menuntut mengadakan peraturan-peraturan sosial guna kaum buruh, untuk mencegah penindasan dan perbuatan kesewenang-wenangan (upah minimum, maksimum waktu kerja dl). Ini ditimbulkan karena adanya infiltrasi orang-orang berfaham sosialis seperti Alimin, Semaun, Darsono, Tan Malaka dan lainnya yang berasal dari Indische Social Democratische Vereeniging (I.S.D.V) yang nantinya berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (P.K.I) yang masuk menjadi anggota S.I. Dengan sifat pergerakan yang berubah, maka S.I sangat terbuka kepada orang-orang yang berfaham kiri untuk menjadi anggota bahkan menjadi pengurusnya. Sehingga timbul reaksi dari anggota S.I lain untuk membersihkan S.I dari unsur-unsur sosialis komunis lewat Kongres Nasional S.I ke 6 di Surabaya (10 Oktober 1921) dipimpin oleh Tjokroaminoto untuk membentuk disiplin partai dengan menyamakan dasar perjuangan. Oleh karena itu maka orang tidak mungkin lagi menjadi anggota S.I sekaligus mejadi anggota P.K.I.

Indische Partij
Organisasi ini didirikan di Bandung atas prakarsa tiga tokoh populer yang biasa disebut tiga serangkai yaitu Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Sifat dari organisasi ini radikal dan progresif dengan menyatakan sebagai partai politik.
Keanggotaan Indische Partij adalah terbuka untuk semua golongan baik orang Eropa dan keturunannya yang tinggal di Hindia Belanda (Indo), orang Belanda keturunannya (Indo), orang Tionghoa dan keturunannya dan orang pribumi.
Tujuan : Indie Merdeka
Dasar : National Indie
Semboyan : Indie untuk Indier
Bendera : warna dasar hitam (menunjukan warna kulit orang Indonesia), satu pojoknya diberi garis-garis hijau (yang berarti pengharapan baik dimasa mendatang), merah (yang berarti keberanian) dan biru (yang berarti kesetiaan)
Dikarenakan sifat dari pergerakan ini radikal, maka pemerintahan kolonial membuang (mengasingkan) ke tiga tokohnya dengan tuduhan akan mengadakan pemberontakan pada bulan Agustus 1913.
·         Douwes Dekker diasingkan ke Timor Kupang
·         Tjipto Mangunkusumo diasingkan ke Banda
·         Suwardi Suryaningrat diasingkan ke Bangka
Namun ketiganya meminta untuk diasingkan ke negeri Belanda, permintaan ini dikabulkan oleh pemerintah Belanda.

Sumber :
Djaja, Tamar. 1951. Rintisan Sejarah Indonesia. Bandung. Penjiaran Ilmu
Pringgodigdo, A.K. 1978. Sejarah Pergerakan Nasional Rakyat Indonesia. Jakarta. Dian Rakyat.