Halaman

Tuesday, April 17, 2018

Umat Akhir Zaman

Sebagian orang ada yang berkeinginan jika boleh memilih ia ingin hidup pada masa Rasulullah atau paling tidak masa Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Mereka beranggapan bahwa hidup pada jaman sekarang suatu kerugian. Umat akhir jaman diyakini adalah sejelek jeleknya umat, yang jauh dari Islam jaman Rasulullah. Stigma “rugi” menjadi umat akhir jaman sebagai umat yang karena jarak waktu sangat jauh dari jaman Rasulullah dibangun secara sadar ataupun tidak sadar.
Setiap keburukan yang terjadi disekitar, pelacuran, pemerkosaan, pembunuhan dan semua hal yang dikategorikan keburukan selalu dinisbahkan pada akhir jaman. Waktu menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan pada kondisi sosial maupun keagamaan. Tanpa ragu kita selalu berucap “dasar umat akhir jaman” atau “mungkin karena sekarang akhir jaman” ketika merespon hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan agama.
Umat akhir jaman dipersepsikan sebagai umat “jelek” dibandingkan dengan yang sebelumnya hanya karena panjangnya jarak antara kita dengan pembawa kebenaran, lagi-lagi menyalahkan waktu.

Baca juga : Keberadaan Tanpa Kebermaknaan

Branding “umat akhir jaman yang jelek” membangun sugesti penyesalan. Alam bawah sadar merespon branding tersebut dengan pernyataan ilusi. Pernyataan yang sebetulnya bentuk protes yang dilandasi ketidaksiapan dan keputusasaan dalam memandang hidup. “Kalaulah kita hidup dijaman Rasul, kita pasti akan jadi umatnya dan masuk surga bersamanya”. Kira-kira begitu kalimatnya.
Lalu, siapa yang menjamin jika kita hidup pada masa Rasulullah kita akan berdiri dibelakangnya sebagai makmum dan berdiri didepanya kitika berperang?. Bisakah kita meyakinkan diri sendiri dengan mantap akan mengimani ajaran “baru” yang dibawa oleh seorang pedagang yang yatim piatu?. Siapa yang akan menjamin bahwa kita akan menjadi pembela dan bukan salah satu yang mencemoohnya?.

Baca juga : Terjebak

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan waktu, umat akhir jaman juga umat Rasulullah. Dia akan memberikan syafa’atnya sampai pada masa ketika kiamat bagi yang beriman. Dan waktu hanyalah waktu, ia berjalan dengan fenomena-fenomena khas pada setiap masanya. Imanlah yang membuat Abu Bakar berdiri dibelakangnya sebagai makmum dan berdiri didepannya ketika perang. Dan jika kita menginginkan itu, tak perlu menyalahkan akhir jaman, cukup tirulah Abu Bakar.
Cecep Lukmanul Hakim

2 comments:

  1. Sungguh suatu paradigma keliru seandainya umat yg hidup dimasa skrg berfikir dan menyesali masa, pdhal sudah jelas Qur'an dan Sunah Rasul yg menuntun kita ke Surga.

    ReplyDelete