Halaman

Tuesday, April 17, 2018

Umat Akhir Zaman

Sebagian orang ada yang berkeinginan jika boleh memilih ia ingin hidup pada masa Rasulullah atau paling tidak masa Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Mereka beranggapan bahwa hidup pada jaman sekarang suatu kerugian. Umat akhir jaman diyakini adalah sejelek jeleknya umat, yang jauh dari Islam jaman Rasulullah. Stigma “rugi” menjadi umat akhir jaman sebagai umat yang karena jarak waktu sangat jauh dari jaman Rasulullah dibangun secara sadar ataupun tidak sadar.
Setiap keburukan yang terjadi disekitar, pelacuran, pemerkosaan, pembunuhan dan semua hal yang dikategorikan keburukan selalu dinisbahkan pada akhir jaman. Waktu menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan pada kondisi sosial maupun keagamaan. Tanpa ragu kita selalu berucap “dasar umat akhir jaman” atau “mungkin karena sekarang akhir jaman” ketika merespon hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Thursday, February 15, 2018

N Y A I

Perdaban barat (eropa) sejak dari masa modern selalu dianggap supreme, ras yang paling terdepan dalam budaya dan teknologi. Yunani sampai saat ini masih menjadi rujukan intelektual dalam pergumulan ide dan peradaban manusia. Konsep egaliter, kemerdekaan, kebebasan membuat mereka membusungkan dada terhadap ras lain di belahan dunia.
Sangat ironi, kenyataannya mereka sangat kagum terhadap ras sendiri sebagai pelopor dan pejuang persamaan, kemerdekaan dan kebebasan, namun justru melakukan diskriminasi dan penjajahan di belahan dunia lain.
Pada setiap wilayah jajahan, komposisi masyarakat selalu diposisikan secara vertikal, dari tingkat paling bawah sampai paling atas, bahasa sosiologinya stratifikasi sosial. Sesuai kenyataan, paling bawah adalah mereka yang sangat menderita dan paling atas adalah sebaliknya. Kelas bawah adalah mereka yang menjamin, yang bertugas untuk menjamin kelas yang di atasnya. Kita adalah kelas yang diperah dan mereka adalah yang memerah dan menikmati kekayaan kita.

Saturday, December 9, 2017

Keberadaan tanpa Kebermaknaan

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
Perkara hidup tak akan pernah habis kita fikirkan dan diskusikan. Warung kopi tempat ngopi sebangsa saya yang secara ekonomi berada di bawah garis kemiskinan, Café tempat kongkow dan kopdar orang berduit, semua materi pembicaraannya tak jauh dari masalah hidup. Dimulai materi yang ringan seperti urusan gaya hidup, kategori menengah yaitu urusan mencari materi (duniawi) sampai yang tingkat dewa seperti keinginan untuk poligami tapi diridoi oleh istri pertama menemani semangkuk bakso atau sepiring nasi timbel bisa juga ditemani secangkir kopi atau teh dengan kepulan kretek khas Indonesia.