Halaman

Saturday, May 14, 2011

Prasasti-Parasasti Kerjaan Tarumangara

Oleh Cecep Lukmanul Hakim

1.      Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini ditemukan pada alur sungai Ciaruteun, kira-kira 100 meter ke arah hilir dari tempat asal batu itu berada, aliran sungai Ciaruteun bermuara ke Cisadane. Prasasti Ciaruteun ditulis dengan huruf Wenggi atau Pallawa dalam bahasa Sangsakerta seanyak empat baris, masing-masing delapan suku kata. Bunyi bacaannya:

vikkrantasyavanipateh
crimatah purnavarmmanah
tarumanagararendrasya
vishnovira padadvayam

Terjemahannya: Kedua jejak telapak kaki yang seperti jejak telapak kaki Wisnu ini kepunyaan penguasa dunia yang gagah berani yang termasyhur Purnawarman raja Tarumanagara. (Prof. Vogel)

2.      Prasasti Kebon Kopi

Prasasti ini terletak di kampung Muara tidak jauh dari tempat prasasti Ciaruteun. Penamaan kebon kopi, dikarenakan pada waktu dulu daerah ini merupakan lahan perkebunan kopi milik Jonathan Rig. Ia juga yang melaporkan adanya kedua prasasti tersebut (Ciaruteun dan Kebon Kopi) kepada Dinas Purbakala di Jakarta. Namun, penduduk setempat biasa menyebutnya dengan prasasti batu tapak gajah, karena pada prasasti tersebut terdapat dua buah ukiran telapak gajah. Isi prasasti hanya satu baris, ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansakerta. Bunyi bacaannya:
Jayavicalasya tarumendrasya hastinah – airavatabhasya vibhatidam padadvayam

Terjemahannya: (ini) dua jejak telapak kaki Airwata yang perkasa dan cemerlang, gajah kepunyaan penguasa Taruma yang membawa kemenangan. (Prof. Vogel)

3.      Prasasti Jambu

Prasasti ini terdapat di pucak bukit Koleangkak, Kecamatan Leuwi Liang di Kabupaten Bogor,. Pada kaki bukit mengalir sungai kecil Cikasungka. Dahulu daerah itu termasuk tanah perkebunan Jambu sehingga prasasti ini dikenal dengan Prasasti Jambu. Isinya ada dua baris dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansakerta. “Diatas” bagian yang ditulis terdapat lukisan sepanjang telapak kaki. Bacaannya:
-    criman data krtajnyo narapatir asamo yah pura tarumayan namma cri purnnavarmma pracuraripucarabedyavikhyatavarmmo
-  tasydam padavimbadvyam arinagarotsadane nityadaksham bhaktanam yandripanam bhavati sukhakaram calyabhutam ripunam

Artinya: Lukisan dua telapak kaki ini kepunyaan yang termasyhur setia dalam tugasnya (yaitu) raja tanpa tandingan yang dahulu memerintah Tarumanagara bernama Sri Purnawarman yang baju perisainya tidak dapat ditembus oleh tombak musuh-musuhnya, yang selalu menghancurkan kota(benteng) musuh, yang gemar menghadiahkan makanan dan minuman lezat kepada mereka (yang setia kepadanya) tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya. (Prof. Vogel)

4.      Prasasti Cidangiang
Prasasti ini baru ditemukan (dilaporkan) tahun 1950 an. Letaknya pada aliran sungai Cidangiang di desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang. Pada prasasti ini juga terdapat lukisan telapak kaki. Bacaannya:
vikrantayam vinapateh
prabbhuh satyaparakramah
narendraddhvajabutena crimatah
purnnavarmmanah

Artinya: (Ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termasyhur Purnawarman. (Prof. Vogel)

5.      Prasasti Tugu 

Prasasti ini ditemukan di kampung Batutumbu, desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya (dahulu Cilincing) di Kabupaten Bekasi. Batu yang digunakan berbentuk blat hampir menyerupai kerucut sehingga baris-baris hurufnya dituliskan melingkat. Keseluruhannya ada lima baris berhuruf Pallawa berbahasa Sansakerta. Pada batutulis ini tidak terdapat lukisan telapak kaki. Bacaannya:



 pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyata puri prapya
candrabhagarnna yayau // pravarddhamana dvavinca dvatsare crigunaujasa narendradhvajabutena
crimata purnnavarmmana // prarabhya phalgunemase khata krsna tsamitithau caitracukla trayodacya dinai siddhaika vincakai
ayata shatsahasrena dhanusha(m)sa catena ca dvavincacena nadi ramya gomati nirmalodakna // pitamahasya rajasher vvidarya cibiravani
brahmanair ggosahasrena prayati krtadakshino//

 Artinya: Dahulu sungai Candrabaga digali oleh Rajadirajaguru yang berlengan kuat (besar kekuasaannya), setelah mencapai kota yang ashur, mengalirlah ke laut. Dalam tahun ke 22 pemerintahannya yang makin sejahtera, panji segala raja, yang termasyhur Purnawarman, telah menggali saluran sungai Gomati yang indah, murni airnya, mulai tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna dan selesai tanggal 20 bagian terang bulan Caitra, selesai dalam 20 hari. Panjangnya 6122 busur mengalir ke tengah-tengah tempat kakeknya, Sang Rajesi. Setelah selesai dihadiahkan 1000 ekor sapi kepada brahmana. (Prof Vogel)
Menurut Prof Vogel, panjang 6122 busur itu kira-kira sama dengan 11 kilometer. Menurut pendapatnya, bila saluran sepanjang itu dapat diselesaikan dalam waktu hanya 20 hari, tentu itu hanya “salura kecil” saja.

Patut disayangkan, bahwa tidak ada satupun diantara prasasti diatas yang menyebutkan angka tahun. Prasasti tugu hanya menampilkan tanggal dan masa pemerintahan Purnawarman tahun ke 22. Dari bentuk huruf dan bahasanya Prof. Vogel memperkirakan bahwa prasasti-prasasti Purnawarman berasal dari pertengahan abad ke 5. Akan tetapi kemudian Prof. Casparis memudakannya menjadi abad ke 6.

Sumber
Danasasmita, Saleh. Sejarah Jawa Barat: Jilid Kedua. Kerta Mukti Gapuraning Rahayu: Bandung

No comments:

Post a Comment