Halaman

Sunday, October 9, 2011

Perang Salib

Perang Salib III (bag IV)
Oleh Cecep Lukmanul Hakim
Richard The Lionheart
Ternyata penaklukan Saladin atas kerajaan-kerajaan Latin terutama dikuasainya Yarusalem membangkitkan semangat ksatria-ksatria Eropa untuk membalas kekalahan tersebut. Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard the Lion Heart raja Inggris dan Philip Agustus raja Prancis adalah ksatria-ksatria Eropa yang berangkat menuju Yarusalem dengan pasukannya untuk membebaskan kota suci itu untuk kedua kalinya. Frederick Barbarosa raja Jerman berangkat dengan pasukannya menuju Yarusalem pada bulan Mei 1189. Amstrong menjelaskan (2007:417) “Tentara itu merupakan kekuatan militer terbesar yang pernah berangkat meninggalkan Eropa: para saksi yang terkagum-kagum memperkirakan mereka terdiri atas 50.000 kavaleri dan 100.000 infanteri”. Ini adalah pasukan terbesar yang berangkat menuju Yarusalem pada waktu perang salib III atau mungkin terbesar dalam ketiga perang salib. Motif membebaskan Yarusalem dari orang-orang sarasin bukanlah motif utama yang menarik untuk Barbarosa. Amstrong menjelaskan (2007:417) “Frederick telah memerintahkan agar orang-orang Jerman menyucikan Charlemagne dan telah menugaskan seorang pendeta di Aachen untuk menulis sebuah versi baru dari The Legend of Charlemagne”. Barbarossa terobsesi dengan raja yang menjadi leluhurnya yaitu Charlemagne dari dinasti Carolingen yang telah memimpin Eropa setelah kejatuhan Romawi dengan wilayah kekuasaannya yang luas dan kejayaannya. Mungkin juga motif balas dendam salah satu motif Barbarossa seperti ksatria Franka lainnya karena dominasinya dikalahkan oleh muslim ketika abad ke 8 di Andalusia.
Hal ini menjadi sangat wajar karena Carolingen dengan rajanya Charlemagne adalah kerajaan besar yang meliputi Prancis, Belanda, Italia, Swiss, Austria, Jerman dan Luxemburg. Dinasti yang lahir dari orang-orang Franka ini juga melahirkan ksatria-ksatria yang berani dalam pertempuran dan ksatria yang berangkat ke Yarusalem dalam menyambut perintah suci Paus Urbanus II pada tahun 1095. Dan yang terpenting adalah bahwa Frederick Barbarosa adalah keturunan dari dinasti Carolingen yang besar itu. Dinasti Carolingen pada akhir kejayaannya membagi tiga wilayahnya karena adanya perebutan kekuasaan hingga diadakannya perjanjian Verdum pada tahun 843. Perjanjian ini membagi daerah Charlemagne bangsa Franka menjadi tiga :
·         Franka Barat yaitu wilayah Prancis sekarang
·         Franka tengah yaitu wilayah Belanda, Austria, Italia, Swiss dan Luxemburg
·         Franka timur yaitu wilayah Jerman
Dengan alasan-alasan inilah Barbarossa mengirimkan pasukan dengan jumlah yang sangat besar untuk membebaskan Yarusalem dari orang sarasin.
Frederick Barbarossa
            Keberangkatan pasukan Barbarossa ini disusul dengan pasukan Richard the Lion Heart pada tanggal 3 September 1189 meninggalkan Inggris dengan pasukannya menuju Yarusalem. Richard seorang raja dari Inggris, dia putra Henry raja Inggris sebelumnya. Dia memilki keterikatan dengan kerjaan Prancis karena dia adalah anak dari ratu Prancis yang bercerai dengan raja prancis yaitu Louis VII yaitu Elanor dari Aquitaine. Amstrong menjelaskan (2007:415) “…. Elanor Aquitaine (yang telah mencerikan Louis VII dan menikahi Henry setelah ia kembali dari Perang Salib Kedua)”. Perceraian ini adalah janji Elanor ketika Louis VII dalam perang salib II tidak memberikan bantuan kepada Raymund (pananya Elanor) dalam melakukan serangan terhadap tentara Nuruddin yang telah menguasai Alepo yang jaraknya dekat dengan Antiokia (wilayah Raymund). Richard adalah raja yang hormati oleh semua raja di Eropa meskipun wilayahnya kalah dari Prancis. Richard adalah raja yang memimpin pasukan salib dalam kelanjutannya mengepung Acre dan berperang dengan Saladin.
Philip Agustus
            Raja Prancis Philip Agustus berangkat menuju Yarusalem dengan pasukannya dari daerah Vezelay dan bersatu dengan pasukan Richard di pulau Sisilia kemudian berlayar ke Yarusalem. Tetapi Barbarossa memilih jalan darat untuk sampai ke Yarusalem. Hal ini untuk mengenang dan menghormati perjalanan Charlemagne, leluhurnya yang berjalan ke Yarusalem. Tetapi perjalanan ini menjadi bencana bagi Barbarossa karena dia tewas sebelum mencapai Yarusalem. Amstrong menjelaskan (2007:418)
“Pada tanggal 10 Juni 1190, pasukan tiba di sungai Calycadnus di dataran Seleucia. Dengan berbaju besi lengkap, Barbarossa melompat ke arus sungai yang menggila, entah untuk mendinginkan tubuhnya atau untuk memamerkan keberaniannya. Tetapi kejutan arus sungai mungkin terlalu kuat dan dinginnya air mungkin terlalu menusuk untuknya dan mungkin memang menderita serangan jantung, sehingga ia seketika itu juga tenggelam”.
Dengan kejadian itu pasukan Jerman terpecah, ada yang kembali ke negaranya dan ada yang meneruskan perjalanannya ke Yarusalem.
            Pasukan Richard dan Philip berangkat menuju Acre pada tahun 1191 dari Sisilia wilayah terdekat orang Kristen dengan Yarusalem. Acre adalah tempat yang cocok untuk menyerang Yarusalem bagi tentara salib karena disana terdapat sisa pasukan salib II yang masih bertahan meskipun terus diserang oleh Saladin. Mendengar pasukan salib yang dipimpin oleh Philip mengepung Acre, Saladin memerintahkan pengepungan kota Acre sebagai balasan terhadap kepungan Philip. Saladin juga mengetahui pentingnya Acre bagi pasukan salib sebagai pintu gerbang menyerang Yarusalem. Dalam perang ini kedudukan pasukan salib yang dipimpin oleh Philip mulai terjepit tetapi dengan kedatangan pasukan Richard, pasukan salib seolah menemukan kembali semangat berperangnya. Amstrong menjelaskan (2007:418) “Namun, kedatangannya pada tanggal 6 Juni amat menentukan bagi tentara Kristen yang sedang kelelahan luar biasa”. Keterlambatan ini dikibatkan karena Richard menyerang Siprus dahulu. Kedatangan Richard menambah jumlah pasukan yang besar dalam menghadapi tentara Islam dan menambah moral pasukan karena Richard adalah raja yang dikagumi di Eropa.
            Datangnya pasukan Richard ke Acre menambah jumlah pasukan salib menjadi lebih besar dan mulai bersiap mengatur strategi untuk meruntuhkan benteng Acre yang sedang dikuasai oleh Saladin. Pasukan Philip, Richard, Guy Lusignan yang telah dibebaskan oleh Saladin dan sisa tentara Barbarossa mulai mengepung benteng kota Acre dan berhasil menguasainya pada 12 Juli 1191. Keberhasilan ini tidak bisa lepas dari peran Richard, Richard menyajikan suatu perbedaan corak dan motif dari perang salib sebelumnya yang terkesan religius, tetapi kali ini Richard mengobarkan semangat tentara salaib dengan cara lain. Amstrong menjelaskan (2007:419) “Richard malah menawarkan kepingan emas bagi setiap orang dalam pasukan yang dapat mengambil sebongkah batu dari benteng kota yang sedang diruntuhkan oleh Tentara Salib”. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Paus Urbanus II dan Bernard yang berkhotbah untuk mengobarkan semangat jihad dan pahala yang didapatkan apabila berjihad melepaskan kota Yarusalem dari orang sarasin. Tetapi apa yang dilakukan Richard pada akhirnya mampu mengalahakan pasukan Saladin di Acre dan menawan penduduk muslim yang berada di dalam benteng dan membantainya karena Saladin tidak membayar denda yang diajukan Richard. Hitti (2008:831) menjelaskan “Ketika sampai akhir bulan uang tebusan itu tidak dibayar juga, Richard memerintahkan 2700 tawanan untuk dibunuh”. Setelah penaklukan Acre, Richard melanjutkan penaklukannya mendekati Yarusalem tetapi raja Prancis Philip kembali ke negaranya.
Akhir Kekuasan Pasukan Salib
            Setelah penaklukan Acre tidak ada lagi peperangan besar antara kedua belah pihak dan kedua belah pihak lebih mengedepankan jalur diplomasi. Hal ini mungkin adalah kesadaran bagi keduanya, Richard dan Saladin yang merasa sudah terlalu banyak korban yang jatuh dalam perebutan tanah suci yang niat sesungguhnya juga bukan untuk menguasai tetapi untuk menciptkan kedamaian dan keamanan bagi peziarah dari dua agama tersebut. Perdamaian itu akhirnya tercapai pada 2 November 1192. Hitti (2008:831) menjelaskan “Akhirnya, perdamaian ditetapkan diatas kertas pada 2 November 1192, dengan ketentuan bahwa daerah pantai menjadi milik bangsa Latin, sedangkan “daerah pedalaman” milik umat Islam”. Pada akhirnya kedua agama yang berselisih atas tanah Yarusalem bisa menghormati antar satu sama lain dan memberikan kedamaian terhadap tanah tersebut. Tidak bisa diingkari bahwa satu Islam dan Kristen memiliki hak yang sama atas Yarusalem tetapi bukan hak untuk kekuasaan yang malah menimbulkan peperangan namun hak untuk menjaga keamanan tanah tersebut.
        

Daftar Pustaka
Amstrong, Karen. (2007). Perang Suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk. Jakarta: Serambi.
Departemen Agama RI. (2004). Al-Quran dan Terjemahnya. Surabaya: Mekar Surabaya.
Hitti, Philip K. (2008). History Of The Arabs. Jakarta: Serambi
Kuncahyono, Trias. (2008). Jerusalem: Kesucian, konflik dan Pengadilan Akhir. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Lewis, Bernard (2009). Assassin: Kaum Pembunuh dari Alamut. Yogyakarta: Haura Pustaka.
Yatim, Badri (2008). Sejarah Perdaban Islam. Jakarta: Grafindo Persada.

Thursday, September 1, 2011

Silsilah Raja Kerajaan Tarumanagara

Ketika Pancasila Kehilangan Kesaktiannya

Oleh Cecep Lukmanul Hakim


Pancasila yang kita sebut sebagai ideologi Negara yang terdiri dari lima sila atau lima poin yang menjadi dasar bagaimana Negara dan rakyatnya bertindak kini mulai kehilangan posisinya. Banyak yang beranggapan bahwa Pancasila sekarang hanya menjadi lambang Negara yang bisu, tidak dapat berbicara, tidak bisa melawan segala perubahan dan tidak bisa memberikan solusi dengan timbulnya perubahan. Pancasila sudah kehilangan nilai-nilainya dan hanya dipandang sebagai pajangan pelengkap foto Presiden dan wakil Presiden saja. Bahkan ada juga segelintir orang yang tidak tahu sila-sila yang terdapat pada Pancasila.

Hal ini tentu sangat menyedihkan sekali, padahal kita tahu bahwa Pancasila adalah dasar Negara atau ideologi Negara yang kedudukannya sangat tinggi sehingga seluruh rakyat dan pemerintah harus bertindak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Seharusnya Pancasila dijadikan tolak ukur bagi kita untuk bertindak dan menjadi panduan kita hidup bernegara. Sila-sila dalam Pancasila adalah intisari dari seluruh perbedaan yang terdapat di Negara ini, konsensus yang dijadikan dasar berpijak bagi seluruh rakyat Indonesia yang majemuk. Penggali Pancasila yaitu M. Yamin dan Sukarno sadar bahwa Negara ini Negara majemuk, memiliki keragaman mulai dari ras, agama dan suku, maka dengan kemajemukan tersebut haruslah dipersatukan dengan jalan membuat suatu dasar pijakan yang bisa mengakomodir seluruh perbedaan diantara rakyat. Niai-nilai luhur yang terkandung dalam tiap sila dalam Pancasila harusnya menjadi pegangan yang tidak boleh dilepaskan oleh kita.

Nilai-nilai Pancasila

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai kebenaran yang sama dianjurkan atau diajarkan oleh agama-agama. Memang, agama juga memiliki nilai-nilai kebenaran yang hakiki dan wajib menjadi pegangan seluruh manusia, akan tetapi dalam sebuah Negara majemuk tidaklah cukup dengan kebenaran dari salah satu agama karena hal tersebut akan menimbulkan gesekan-gesekan antar umat beragama yang kemudian berpotensi menjadi disintegrasi nasional. Maka dengan itu Pancasila memiliki sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa yang berarti mengakui kemajemukan agama yang terdapat di Indonesia. Selanjutnya, Pancasila juga mengajarkan bahwa kita harus memiliki sifat kemanusiaan yang harus kita lakukan dengan berbagai tindakan seperti tolong menolong dan berlaku adil terhadap orang lain. Orang yang menolong seseorang ketika membutuhkan suatu pertolongan dan para pedagang yang berlaku adil dalam melakukan perdagangan atau bahkan para pejabat yang mengetahui hak dan kewajibannya secara benar itu bisa dikatakan orang-orang yang berjiwa Pancasila terlepas dari agama apa yang mereka anut.

Kemajemukan yang menjadi pribadi Negara kita ini juga mendapat perhatian dari para penggali Pancasila. Perbedaan agama, suku dan ras yang terdapat di Indonesia tidak bisa dihilangkan dan oleh karenanya haruslah dicari titik temu diantara perbedaan tersebut sehingga gesekan-gesekan dalam masyarakat dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Untuk menjadi Negara yang besar, haruslah memiliki rakyat yang bersatu sebagai pendukung dan penyelenggara kehidupan berbangsa dan bernegara karena apabila rakyat pecah belah dan tidak mendukung Negara, maka Negara itu akan hancur. Disinilah dibutuhkannya persatuan diantara perbedaan yang sudah menjadi kodrat dan takdir Tuhan bagi Indonesia. Nilai-nilai Pancasila yang merupakan konsensus diantara kemajemukan Indonesia menghendaki hilangya golongan mayoritas yang mendominasi dan golongan minoritas yang didominasi atau golongan yang terjamin dan golongan yang menjamin. Persoalan mayoritas dan minoritas memang tidak bisa dihindari dengan keadaan masyarakat Indonesia yang majemuk, namun perlu ditekankan disini bahwa kaum minoritas dan masyoritas memiliki hak dan kewajban yang sama dalam kehidupan sosial masyarakat dan bernegara. Tidak ada satu kelompok atau satu agama yang didiskreditkan dikarenakan perbedaan kelompok dan agama seperti kenyataan baru-baru ini. Konfik Poso yang diakibatkan sentimen agama dan konflik yang terjadi di Kalimantan yang disebabkan karena perselisihan suku pribumi Dayak dan suku pendatang Madura seharusnya tidak perlu terjadi jika masing-masing kelompok masyarakat mengetahui dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Dalam kehidupan ekonomi dan politik pun kita sudah keluar dari koridor yang telah digariskan oleh Pancasila. Memang menurut sebagaian orang Pancasila tidak bisa menjawab tantangan global yang sedang melanda dunia. Mereka berpendapat bahwa Pancasila itu hidup pada zaman Sukarno saja (orde lama) dan sekarang seolah-olah mati karena terseret oleh sejarah. Konsep-konsep Manipol Usdek (manifestasi Politik UUD 1945, Sosialisme, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian) dan konsep Trisakti (Berdaulat dibidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Bidang Budaya) memang konsep yang ditelurkan oleh itu kontekstual karena Sukarno melihat keadaan Indonesia pada waktu itu memerlukan konsep-konsep tadi dalam rangka National and Caracter building. Pembangunan Negara dan pembentukan karakter kepribadian Negara memang dua hal yang sangat urgen pada waktu itu karena keadaan itu setidaknya akan menentukan Indonesia dimasa mendatang. Pergolakan politik yang terjadi pada waktu Orde lama menjadi suatu bukti bahwa Indonesia masih dalam tahap pencarian jati diri bangsa dengan pemakaian sistem Demokrasi Liberal (sistem parlementer) yang kemudian dilanjutkan dengan sistem Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 1959. Selain poltik, ekonomi kita pun sama tidak stabilnya dengan politik. Perkebunan-perkebunan masih dikuasai oleh pengusaha asing, industri minyak bumi juga masih dikuasai oleh perusahan asing seperti Shell, Stanvac dan Caltex, dalam bidang perbankan juga masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Belanda, Inggris dan Cina. Dengan keadaan seperti itu maka nilai-nilai dalam Pancasila mulai ditelurkan kedalam konsep-konsep seperti diatas untuk mencapai kesejahteraan rakyat seperti yang digariskan oleh Pancasila.

Hemat saya, keadaan ekonomi dan politik sekarang kembali lagi kepada masa dimana kita dalam penjajahan Belanda. Sumberdaya alam yang terkandung di dalam bumi Indonesia banyak yang dikuasai oleh pihak asing seperti PT Freeport yang seharusnya hasil bumi tersebut dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk hajat hidup orang banyak (rakyat) sesuai dengan UUD 1945. Selain itu kadaan ekonomi kita yang cenderung berarah kepada liberalisasi dan kapitalisasi baik modal dalam negeri dan modal asing menyebabkan ketimpangan-ketimpangan ekonomi dalam masyarakat. Sentralisasi pembangunan masih dilakukan sehingga ketimpangan pembangunan pun muncul dan menimbulkan konflik-konlfik di daerah seprti Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Operasi Papua Merdeka (OPM).  Dalam politik pun demikian, harga diri Indonesia sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat dimata dunia Internasional mulai menurun. Kekalahan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia di perbatasan Indonesia-Malaysia (Sipadan-Ligitan) menjadi bukti betapa lemahnya Negara ini di hadapan dunia Internasional. Padahal para pejuang kemerdekaan dulu bertaruh nyawa untuk mencapai kemerdekaan dan mempersatukan seluruh wilayah Indonesia.  

Seharusnya, pemerintah anggota parlemen, dan para intelektual Indonesia bisa menempatkan Pancasila kepada tempat asalnya sebagai ideologi Negara. Selain itu, para pemimpin juga hendaknya bisa meramu Pancasila seperti halnya Sukarno sehingga menelurkan konsep-konsep yang kontekstual dan cocok bagi kepribadian Indonesia dalam hal politik maupun ekonomi saat ini. Tidak seharusnya kita meninggalkan Pancasila karena ada segelintir orang yang berpendapat Pancasila tidak bisa menghadapi tantangan global, yang harus diperhatikan kini adalah bagaimana Pancasila sekarang masih bisa berperan dan menjadi ideologi yang benar-benar ideologi di Indonesia.