Halaman

Sunday, April 10, 2011

Antara Historiografi Neerlandosentris dan Historiografi Indonesiasentris

Oleh Cecep Lukmanul Hakim
 
Pergulatan antara Penulisan Sejarah Objektif dengan Nasionalisme
Berbicara mengenai historiografi, maka kita harus memahami apa yang disebut dengan metodologi sejarah yang memiliki tahapan-tahapan tertentu dalam menghasilkan suatu karya sejarah. Bagian-bagian daripada metodologi sejarah menjadi titik tolak dan aturan yang baku (sampai saat ini dan mungkin akan berkembang) dalam proses merekontruksi peristiwa masa lalu yang dihadirkan kembali meskipun tidak secara utuh (historium rerum gestarum). Seorang sejarawan tidak mungkin meninggalkan satu tahapan dalam  metodologi ketika merekontruksi data dan fakta mejadi suatu uraian sejarah, karena mereka faham metodologi itu sebagai suatu kesatuan tahapan yang baku seperti halnya resep pembuata kue. Urutan-urutan tersebut harus dilakukan sebagaimana mestinya untuk menghasilkan kesempurnaan dalam sebuah karya sejarah.
Menulis sebuah karya sejarah adalah kegiatan intelektual yang merupakan penggabungan antara kematangan ilmu dan kemampuan seni kita dalam mengkomunikasikan hasil temuan kita kepada pembaca lewat uraian kata yang kita susun. Ketika sejarawan memasuki tahap menulis, maka ia mengerahkan seluruh daya pikirannya, bukan saja keterampilan teknis penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan, tetapi yang terutama penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analisanya karena ia pada akhirnya harus menghasilkan suatu sintesis dari seluruh hasil penelitiannya atau penemuannya itu dalam suatu tulisan utuh yang disebut historiografi (Helijus Sjamsudin 2007:156). Tahapan historiografi ini menjadi tahapan terakhir dalam metodologi yang memiliki bagian-bagian lagi didalamnya, yaitu interpretasi (penafsiran), eksplanasi (penjelasan) dan ekspose (penyajian) yang sebelumnya telah melewati tahapan heuristik (pencarian sumber), kritik sember yang memiliki dua bagian (kritik internal dan kritik eksternal).
Istilah historiografi memiliki dua pegertian yaitu historiografi sebagai penulisan sejarah dan historiografi sebagai sejarah penulisan sejarah. Historiografi sebagai penulisan sejarah telah dijelaskan diatas yang merupakan satu kesatuan dalam metodologi sejarah. Sebagai sejarah penulisan sejarah, historiografi memiliki berbagai kelompok sesuai dengan sudut pandang sejarawan melihat suatu peristiwa. Sudut pandang ini yang menyebabkan penulisan sejarah menjadi beragam karena sudut pandang tersebut akan direpresentatifkan kedalam metodologi yang dilakukan. Representatif dari sudut pandang tersebut akan muncul pada tiap langkah metodologi mulai dari pemilihan sumber, kritik sumber sampai pada gaya penulisan sehingga menjadi uraian sejarah. Keterlibatan sejarawan dalam proses ini menyangkut keterlibatan simpati, emosi, filsafat, idealisme, sudut pandang dan kekayaan intelektual lainnya yang secara tidak langsung bercampur ke dalam hasil karyanya sehingga menjadi ciri khas atau gaya dalam setiap penulisannya. Meskipun keterlibatan total ini sama dengan subjektifitas dalam penulisan, namun hal seperti itu tidak bisa dihilangkan oleh seorang sejarawan karena sejarawan bukanlah robot tapi manusia yang memiliki perasaan dan subjektifitas itu hanya bisa diminimalisir. Dengan beberapa alasan diatas maka timbulah macam-macam historiografi sejarah, historiografi Neerlandosentris, historiografi Indonesiasentris dan lainnya
   
Historiografi Neerlandosentris  
Historiografi neerlandosentris merupakan kekayaan intelektual dalam sejarah yang menjadi salah satu bagian dari historiografi kolonial di Indonesia. Historiografi kolonial yang meliputi penulisan sejarah pada jaman penjajahan Belanda, Inggris dan Jepang memberikan sumbangan yang sangat besar untuk kekayaan sejarah Indonesia. Hasil karya dari gaya penulisan tersebut menjadi sebuah tesis dalam dinamika perkembangan penulisan sejarah di Indonesia dan merupakan cambuk terhadap intelektual-intelektual Indonesia pada zamannya bahkan sampai sekarang untuk menghasilkan sebuah karya yang bisa menempatkan posisi orang Indonesia secara wajar yang menjadi anti tesis dari historiografi kolonial.
Historiografi neerlandosentris merupakan penulisan sejarah di Indonesia dengan menggunakan sudut pandang Belanda. Penulisan ini melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi didasarkan pada hasil tulisan para ahli Belanda dengan penggunaan sumber Belanda. Orientasi dari historiografi ini adalah orang Belanda sebagai penggerak sejarah di Indonesia.
Karakteristik historiografi neerlandosentris, diantaranya:
· Peristiwa-peristiwa penting bagi Belanda atau aktifitas bangsa Belanda di Indonesia
·   Kejadian masa lalu ditafsirkan atau dijelaskan menurut sudut pandang Belanda
·   Sejarah konvensional, analisis menggunakan salah satu faktor
· Bercorak deskriptif-naratf hanya mengungkap apa, siapa, dimana, dan bagaimana tanpa mengungkap mengapa
·  Sumber yang digunakan adalah sumber Belanda, diantaranya buku-buku harian kapal, arsip-arsip pemerintahan, karya-karya perorangan dan laporan pemerintah kolonial dan mengabaikan sumber lokal

Historiografi Indonesiasentris
Historiografi Indonesiasentris adalah penulisan sejarah dengan menggunakan sudut pandang orang Indonesia. Penulisan sejarah ini menempatkan orang Indonesia sebagai penggerak sejarah. Namun penggunaan sumbernya tetap sumber Belanda dengan ditunjang oleh sumber lokal seperti babad, wawacan, hikayat dan lainnya.
Karakteristik historiografi Indonesiasentris, diantaranya:
·   Peristiwa-peristiwa penting bagi Indonesia
·   Kejadian masa lalu ditafsirkan atau dijelaskan menurut sudut pandang Indonesia
·   Sejarah kritis analitis mengungkap apa, siapa, dimana, bagaimana dan mengapa
·  Sumber yang digunakan adalah kombinasi antara sumber Belanda dengan sumber lokal

Nasionalisme atau …
Secara keilmuan wajar-wajar saja ketika suatu peristiwa dipandang dari sudut yang beragam sejauh tujuan yang akan dicapai adalah kebenaran dari peristiwa tersebut. Sudut pandang Belanda maupun sudut pandang Indonesia seharusnya tidak dipandang sebagian sekat yang timbul dari kebencian terhadap sejarah karena Belanda telah menjajah kita. Sentimen tersebut yang menimbulkan pembagian sejarah kedalam kotak-kotak cenderung mempersempit dan memperalmbat laju perkembangan sejarah di Indonesia. Sejarawan dituntut totalitas dan profesionalismenya dalam merekontruksi peristiwa masa lalu dan menanggalkan atribut yang bisa mencedrai hasil karyanya. Meskipun pada kenyataannya sulit untuk bisa mencapai tingkat objektifitas dalam penulisan sejarah dan hanya mampu sampai pada tahap objektif dalam metodologi saja.
Pada kenyataannya kehadiran historiografi Indonesiasentris malah menjadi antitesis dari historiografi Neerlandosentris dan menyajikan tulisan sejarah yang berbanding terbalik dan seolah-olah menjadi pembelaan atas sejarah yang dibuat oleh penjajah Belanda. Bangunan historiografi Indonesiasentris merupakan bangunan lain yang merupakan tandingan dari sejarah kolonialis dan seolah-olah tidak dapat dipersatukan yang disebabkan sentimen yang timbul dari kenyataan sejarah. Seharusnya dalam penulisan sejarah tidak perlu menggunakan sudut pandang Indonesiasentris ataupun neerlandosentris. Mengingat penulisan sejarah dimaksudkan untuk berusaha mencari kebenaran masa lalu. Meskipun kebenaran dalam sejarah itu tidak lah mutlak dan hanya bisa diukur dengan keobjektifan dalam metodologi saja, dikarenakan penulisan sejarah hanya berdasarkan jejak-jejak peristiwa masa lalu. Jika sejarah menggunakan salah satu pendekatan tersebut, konten dari sejarah akan tidak seimbang dan menjatuhkan salah satu pihak. Dengan begitu objektifitas dalam sejarah sebagai salah satu faktor yang penting dari penulisan sejarah tidak akan mungkin tercapai. Meskipun sebenarnya tidak menjadi masalah ketika sejarawan menggunakan sudut pandang mana saja yang menurutnya sesuai.
Penulisan sejarah juga tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan-kebutuhan politis yang diinginkan oleh pemimpin. Kepentingan-kepentingan tersebut bisa dilihat secara eksplisit maupun implisit jika kita membandingkan karya sejarah tiap periode pemerintahan. Begitupun sejarah sebagai hasil dari rekonstruksi masa lalu diharapkan tidak hanya menyajikan uraian sebuah peristiwa namun dapat menghasilkan efek yang positif bagi bangsa dan Negara, salah satunya adalah nasionalisme, maka timbulah istilah sejarah sebagai salah satu pembentukan nasionalisme. Tidak ada yang salah dari hal tersebut karena nasionalisme adalah sesuatu yang berharga dan harus dimiliki oleh setiap rakyat dalam suatu bangsa. Penggunaan sejarah sangat efektif dalam proses penumbuhan rasa nasionalisme mengingat sejarah bisa menghadirkan romantisme peristiwa masa lalu, kebesaran dan kejayaan kerajaan-kerajaan di Negara kita dan kisah heroik perjuangan melawan penjajah. Rasa bangga akan kebesaran nenek moyang kita akan menimbulkan perasaan rasa percaya diri pada setiap rakyat dan tidak merasa bahwa kita tidak lebih baik dari Negara lain.
Dekolonisasi historiografi menuju historiografi yang Indonesiasentris mungkin dibutuhkan tergantung pada tingkat mana hisotoriografi tersebut diperuntukan. Disatu sisi diperlukan sebagai alat untuk membangun nasionalisme, namun disisi lain kurang sesuai dengan tujuan dari penulisan sejarah yaitu berusaha mencapai kebenaran.

6 comments:

  1. Saya tertarik untuk menanggapi tulisan Cecep Lukmanul Hakim yang berjudul Antara Historiografi Neerlandosentris dan Historiografi Indonesiasentris yang dipublikasikan di blognya http://ilmuhumaniora.blogspot.com/2011/04/antara-historiografi-neerlandosentris.html pada tanggal 19 April 2011. Saya membaca tulisan Cecep tersebut mempersoalkan penggunaan sumber sejarah dari lokal dan luar negeri yang dikategorikannya melalui Indonesiasentris dan Neerlandosentris. Tentunya, ada banyak pertanyaan yang muncul setelah membaca tulisan Cecep tersebut.

    Penggunaan sumber sejarah yang ditulis oleh orang Belanda, begitu untuk penyebutan Neerlandosentris, ini mengundang pemahaman bahwa bangsa belandalah yang menguasai sejarah Indonesia. Dengan asumsi bahwa banyak sumber-sumber sejarah Indonesia telah dikuasai, dikaji, dimiliki oleh bangsa belanda melalui kolonialismenya yang memerlukan waktu cukup lama, menguasai seluruh wilayah nusantara membutuhkan waktu sekitar 350 tahun.

    Sebetulnya kurang tepat juga jika hanya mengemukakan dua pusaran studi keindonesiaan melalui orang Indonesia dan orang Belanda saja. Melihat ketegangan antara sejarawan lokal dengan kolonial misalnya, tentu kita dapat menyebutnya sebagai pusaran konflik intelektual. Disini sebenarnya terjadi pertarungan, dimana intelektul kolonialis yang seakan membawa sebuah metode historis yang objektif, melawan para penulis dari nusantara yang menjadi objek kajian intelektual kolonial.

    Tak luput, bahwa para intelektual kolonial mendapat serangan yang bertubi-tubi, meski ia pada zamannya mencoba untuk menjadi objektif dalam kajiannya. Namun, begitulah, objektifitas itu menjadi persoalan yang mengundang kecurigaan, yang ada meskipun mencoba untuk memahami dan menyelami, namun adanya perbedaan kultural yang mengakibatkan daya kajinya membuat ragam persoalan di masa kini.

    Dalam tulisannya Cecep juga menyatakan bahwa:
    Historiografi Indonesiasentris adalah penulisan sejarah dengan menggunakan sudut pandang orang Indonesia. Penulisan sejarah ini menempatkan orang Indonesia sebagai penggerak sejarah. Namun penggunaan sumbernya tetap sumber Belanda dengan ditunjang oleh sumber lokal seperti babad, wawacan, hikayat dan lainnya.

    Nah, bagaimana caranya membaca sumber lokal seperti babad, wawacan, hikayat, syair? Tentunya harus menguasai aksara yang berkembang pada masanya bukan? Itu juga masih terlalu berpusat pada tulisan, nah bagaimana dengan sejarah lisan? Atau juga sejarah yang terkandung melalui sastra lisan misalnya?

    Jika memang sejarawan ingin menguak tabir masa lalu, sudah sepatutnya ia menguasai aksara yang ada di nusantara, baik itu aksara yang berkembang sebelum dan setelah palawa ataupun aksara yang berkembang dalam aksara arab atau aksara jawi hingga pegon. Juga bahasa asing, karena memang sumber-sumber asing itu juga yang ikut membahas sejarah Indonesia. Selain itu juga tentunya penguasaan metode sejarah juga mutlak diperlukan.


    Perlu juga diketahui bahwa adanya kecenderungan bahwa penulis sejarah ternyata juga masih terjebak pada pusaran mengulas bahasan sejarah yang besar, peperangan hebat, dll. Hingga ini sebenarnya mengesampingkan naskah-naskah tertulis yang bersifat tulisan pendek, singkat, berupa gambar-gambar, ataupun peristiwa kecil yang sebenarnya juga sangat penting dalam kajian kesejarahan. Disini sebenarnya apa yang disebut oleh sejarah kecil menjadi kurang diminati. Padahal peristiwa kecil yang bersejarah itu pada saat ini sangat mendapatkan tempat sebagai pandangan lain yang mencoba menandingi cara penulisan sejarah.
    Cep, dari manapun sumbernya, baik itu berita Cina, India, Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, Amerika dan lainnya, sudah sepatutnya mendapat tempat. Apalagi juga bersumber dari penulis lokal, maka itu adalah bahan sejarah yang sangat penting, baik lisan maupun tulisan.

    ReplyDelete
  2. Setiap sejarawan memiliki sudut pandang masing-masing dalam mengangkat sebuah peristiwa menajdi sebuah sejarah. Sudut pandang, yang diawali oleh rasa iba, simpati dan ketertarikan menjadi awal sejarawan menuliskan sebuah peristiwa. Namun diharapkan, rasa iba, simpati dan kertarikan jangan sampai masuk ke dalam sebuah penelitian sejarah karena bisa mengganggu konten sejarah itu sendiri. akibatnya bisa pemilihan dalam pemakaian sumber atau bahkan sampai memihak kepada salah satu pihak.
    Munculnya historiografi Indoseniasentris, diawali oleh rasa iba dan sentimen antara Indonesia dengan Belanda. hal itu dilihat dari program nya Sukarno yaitu National and Caracter Buliding. yang saya takutkan, efek dari sentiment tersebut masih ada sampai sekarang sehingga konten sejarah kurang berimbang. meskipun pada dasarnya sejarawan dibebaskan dalam hal tersebut. namun jika penulisan sejarah tetap terkotak-kotak seperti itu, maka penulisan sejarah di Indonesia akan tetap berjalan ditempat, tidak ada kemajuan.
    Saya setuju dengan kang Wahyu tentang perlunya menulis sejarah orang-orang kecil atau subaltern. mungkin untuk zaman modern sekarang sudah banyak sejarawan yang mengulas subaltern sebagai salah satu penggerak sejarah. berbeda dengan masa lalu sehingga ada istilah bahwa sejarah itu hanya milik orang-orang besar. di indonesia pelopor dari penulisan sejarah subaltern itu adalah Prof Dr Sartono Kartodidjo dengan bukunya Pemberontakan Petani Banten 1888. Ulasan sejarah masyarakat subaltern juga dikenal dengan Sejarah Sosial.

    ReplyDelete
  3. Sambungan...
    Untuk masalah mengenai sejarah orang-orang kecil, hal tersebut terkendala dengan sumber. Jika peristiwa tersebut terjadi beberapa abad yang lalu mungkin akan sulit dalam menuliskannya karena tidak ada tulisan atau berita sebagai sumber penulisan sejarah.
    namun untuk masa modern seperti sekarang akhir abad ke 19, 20 dan 21 banyak sekali sumber yang bisa kita jadikan tulisan dalam mengulas sejarah masyarakat subaltern. jadi untuk masa sekarang sejarah itu bukan hanya milik orang -orang besar saja...hehehehe..

    ReplyDelete